Bismillahirahmanirahim...
In the
Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.
Kisah ini diambil dari pengalaman seorang temanku yang
sangat luar biasa. Beliau adalah seorang ummahat shalehah yang memiliki 3 orang
anak yang sangat luar biasa. Anak-anak yang masih sangat muda tapi sangat
dewasa dan cerdas. Namanya ummi aku hanya sempat bertemu sekali dengan beliau
saat ada acara pengajian bulanan di rumahnya. Saat itu pertemuan pertamaku
terjadi sekitar bulan Desember 2012 bulan keduaku di Inggris. Aku baru datang
ke Inggris sekitar bulan November 2012. Aku belum terlalu mengenal beliau tapi
malam itu setelah pengajian aku memutuskan menginap di
rumah ummi karena sudah terlalu malam untuk kembali ke rent houseku.
Ummi dan keluarganya sangat baik kepadaku. Keluarga
muslim yang sangat menyenangkan. Suaminya bukan berasal dari Indonesia tapi
insya Allah shaleh dan sangat baik. Pagi itu saat autumn udara sangat dingin
kami sarapan pagi bersama. Ummi bercerita sedikit tentang penyakit yang
dideritanya beliau menderita penyakit tumor ganas di payudaranya. Rasa
sakit ini diawali ketika ummi mengandung anaknya yang ketiga. Demi menjaga janin dalam kandungannya, ummi
memutuskan menunda semua terapi agar si jabang bayi tak terkena berbagai efek
buruk terapi kanker. Padahal menurut dokter kehamilan meningkatkan hormon
estrogen yang memacu pertumbuhan kanker payudara semakin ganas. Satu hal yang
sangat luar biasa yang kupelajari dari ummi saat itu betap besar dan berat
pengorbanan ummi untuk anaknya...Subhanallah..
Ummi akhirnya
menjalani kemoterapi hormonal yang sudah dikonsumsi selama 6 tahun
terakhir. Akhirnya setelah sekian lama, kemoterapi ini akan segera
dihentikan, dan ahli onkologi akan men "discharge" ummi karena sudah
"disease-free" selama 6 tahun. Di Inggris ini, semua pasien mendapat
follow up ketat pasca terapi, dan dia taat akan semua regimen terapi yang
diberikan oleh para dokter. Terapi kanker di Inggris adalah salah satu yang
paling maju di dunia, Cancer Research UK sangat terkenal dalam penelitian dan
penemuan terapi-terapi baru untuk kanker.
Ternyata, ilmu manusia itu tak ada
setitik pun dibandingkan ilmu sang Pencipta yang bahkan lebih luas dari
samudera. Para dokter menemukan pertumbuhan sel-sel kanker itu lagi di hatinya.
Serial kemoterapi pun dimulai lagi dengan segala efek samping tak
mengenakkannya. Namun demikian, sel-sel kanker itu tetap tinggal, bahkan
semakin meluaskan penjelajahannya ke tulang-tulang dada dan iganya. Radioterapi
pun dijalaninya. Hingga sudah semua modalitas terapi dilakoninya, tampaknya
Sang Penguasa Alam Raya ingin mengajarkan padaku bahwa kuasa dan keputusan Nya
adalah hukum dan hasil yang pasti berlaku. Dunia kedokteran yang dengan bangga
menyatakan "disease-free" itu rupanya hanya arogansi manusia belaka.
Menjenguknya beberapa hari lalu di rumah sakit, dengan senyum mengembang dan mata kuning (karena jaundice) ummi menceritakan hasil CT scan yang baru diberitakan oleh para dokternya.
"Alhamdulillaah, kata dokter, kanker sudah menyebar kemana-mana", begitu katanya... "Alhamdulillaah, nyeri hebat di seluruh badan sampai kalo tak tahan lagi, terpaksa morfin ini diminum... Alhamdulillaah masih berasa nyeri, kalo ga berasa, tentu sedang koma...", begitu katanya ringan sambil tersenyum. "Alhamdulillaah...", begitu katanya berulang-ulang. "Alhamdulillaah, mudah-mudahan ikhlas... Allah yang akan mengurus anak-anak nanti insha Allah...", ujarnya tetap tersenyum.
"Dokter sudah bilang, 'we are sorry that there is nothing we can do, you can go home if you'd like to'," sambungnya. "Saya ingin pulang saja supaya bisa bersama anak-anak. Mohon dimaafkan segala kesalahan yaa...", begitu katanya, masih dengan nada ringan.
Menjenguknya beberapa hari lalu di rumah sakit, dengan senyum mengembang dan mata kuning (karena jaundice) ummi menceritakan hasil CT scan yang baru diberitakan oleh para dokternya.
"Alhamdulillaah, kata dokter, kanker sudah menyebar kemana-mana", begitu katanya... "Alhamdulillaah, nyeri hebat di seluruh badan sampai kalo tak tahan lagi, terpaksa morfin ini diminum... Alhamdulillaah masih berasa nyeri, kalo ga berasa, tentu sedang koma...", begitu katanya ringan sambil tersenyum. "Alhamdulillaah...", begitu katanya berulang-ulang. "Alhamdulillaah, mudah-mudahan ikhlas... Allah yang akan mengurus anak-anak nanti insha Allah...", ujarnya tetap tersenyum.
"Dokter sudah bilang, 'we are sorry that there is nothing we can do, you can go home if you'd like to'," sambungnya. "Saya ingin pulang saja supaya bisa bersama anak-anak. Mohon dimaafkan segala kesalahan yaa...", begitu katanya, masih dengan nada ringan.
Saat itu aku bersama ummahat yang
lain menjenguk ummi di rumah sakit, kulihat wajahnya begitu tegar dan telihat
tabah. Jujur saja di usiaku saat ini aku belum pernah bertemu dengan pasien
kanker dan aku merasa kagum luar biasa dari ummi apalagi beliau bercerita masih
bisa shalat 5 waktu dengan posisi "normal" seperti biasa. Beliau
melanjutkan semenjak keadaan tubuhnya yang semakin drop suaminyalah yang
mengambil alih peran rumah tangga. Mulai dari bangun jam 2 malam kemudian
bekerja sampai sekitar pukul 8 pagi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk
anak-anaknya, mengantarkan sekolah anak-anak. Sekembalinya dari mengantarkan
sekolah, abi (panggilan untuk suaminya ummi) menyiapkan segala keperluan ummi,
memandikan, menyuapi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, sampai kemudian
menjemput anaknya kembali. Sambil tersenyum ummi berkata Abi itu orangnya apik
kalau kerja pasti bersih dan rapi. Tidak terbayang betapa berat peran yang
harus Abi jalani mengurus 3 orang anak, ummi yang sedang menderita penyakit
berat dan tetap bekerja agar bisa memutar roda ekonomi keluarga.
Saat itu aku sedang menemani
ummi menunggu Abi menjemput di lobi rumah sakit. Dari kejauhan terlihat mobil
Abi sudah datang kemudian ummi segera mengakhiri ceritanya dengan mengatakan
semoga Allah memberikan kekuatan untuk Abi dan anak-anak ummi, tetap menjadi
shaleh dan shalehah dan tidak terpengaruh budaya barat. Cerita ini diceritakan
ummi saat aku dan ummi akan pulang dari rumah sakit setelah dokter memutuskan
ummi boleh pulang karena dokter sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa
lagi. Udara
cukup dingin saat itu angin bertiup sangat kencang dan diiringi hujan yang
cukup deras. Abi mendorong kursi roda ummi ke mobil dan membantu menaikkan ummi
ke mobil. Aku berusaha membantu membawa barang-barang ummi dari rumah sakit.
Sebelum menjalankan mobil Abi menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk
ketiga anak-anaknya kemudian mobil berjalan.
Baru
sepuluh menit perjalanan, ummi teringat "painkiller" untuk
meringankan rasa sakit ummi belum diambil, mobil diputar balik kembali ke arah
rumah sakit. Hujan mengucur sangat deras membuatku agak sedikit gelisah
sebenarnya tapi anak-anak ummi tetap ceria dan berusaha mengajakku bercanda.
Aku tahu ummi dan Abi juga terlihat sangat gelisah karena obat itu sangat
penting untuk ummi. Sampai rumah sakit dengan menerobos hujan deras Abi turun
dari mobil demi mengambil "painkiller" untuk ummi. Dalam hati aku
mengagumi Abi.. Subhanallah betapa berat dan besar perjuangan Abi untuk ummi,
Semoga Allah memberinya kekuatan...Singkat cerita hari itu adalah hari
terakhirku bertemu ummi karena rupanya Allah punya rencana yang lebih indah
untuk ummi..
Tanggal
11 May aku menerima berita mengejutkan yang mengabarkan ummi meninggal.
Entah kenapa rasanya sangat kehilangan sekali walaupun aku baru bertemu beliau
dua kali. Tapi di sisi lain ada hikmah yag bisa diambil ummi tidak lagi
merasakan sakit yang dideritanya. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosa beliau,
mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya bidadari surga dan
memberikan kesabaran, kekuatan untuk Abi dan anak-anaknya. Aamiin..
Kutipan
dari seorang sahabat untuk ummi:
"Sahabatku, sungguh malu diriku berdiri di hadapanmu...
Betapa pelajaran yang kau berikan untukku sudah mencabik-cabik
ketinggian hatiku atas majunya dunia kedpkteran manusia. Kisahmu mengajarkan,
ilmu manusia jauh lebih sedikit dari sekedar terbatas...
Sahabatku, sungguh aku takjub padamu...
Hanya orang-orang terpilih seperti dirimu yang mendapat ujian begitu besar dari Sang Pencipta, ikhlas menerimanya, bahkan memanfaatkannya sebagai penggugur dosa...
Sahabatku, sungguh aku iri terhadapmu...
Sahabatku, sungguh aku takjub padamu...
Hanya orang-orang terpilih seperti dirimu yang mendapat ujian begitu besar dari Sang Pencipta, ikhlas menerimanya, bahkan memanfaatkannya sebagai penggugur dosa...
Sahabatku, sungguh aku iri terhadapmu...
Sekarang kau menyibukkan diri untuk kehidupan
akhiratmu, seakan detik berikutnya nyawamu sudah berpisah dari raga... Aku yang
selalu merasa sehat, merasa malaikat maut pasti akan enggan mencabut nyawaku
dalam waktu dekat, sibuk dengan segala urusan duniaku. Padahal bisa jadi takdir
Pencipta tertulis sebaliknya...
Sahabatku, sungguh aku kagum padamu, suamimu, dan anak-anakmu...
Allah perlihatkan bagaimana hasil pendidikan
ilahiyah Nya terhadap anak-anakmu, yang begitu dewasa merawat ibunya, di usia
mereka yang masih dalam hitungan jari...
Terima kasih... terima kasih atas semua
pelajaran yang kau berikan padaku selama ini... Tak mungkin bisa kubalas segala
kebaikanmu... Hanya seuntai doa, yang mudah-mudahan Allah dengar, dariku yang
kualitas penghambaannya hanya seujung kuku dirimu..."
Ummi
semoga Allah memberikanmu tempat terindah disisiNya...Aamiin..
*Disadur
dari catatan seorang sahabat dengan sedikit perubahan...
Best
regards,
Rika reviza rachmawati

1 comment:
mba rika,ibu itu aslinya orang mana ?
Post a Comment