Thursday, 6 June 2013

Sahabat dan nasihat kehidupan untukku

Bismillahirahmanirahim...

In the Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.



Kisah ini diambil dari pengalaman seorang temanku yang sangat luar biasa. Beliau adalah seorang ummahat shalehah yang memiliki 3 orang anak yang sangat luar biasa. Anak-anak yang masih sangat muda tapi sangat dewasa dan cerdas. Namanya ummi aku hanya sempat bertemu sekali dengan beliau saat ada acara pengajian bulanan di rumahnya. Saat itu pertemuan pertamaku terjadi sekitar bulan Desember 2012 bulan keduaku di Inggris. Aku baru datang ke Inggris sekitar bulan November 2012. Aku belum terlalu mengenal beliau tapi malam itu setelah pengajian aku memutuskan menginap di rumah ummi karena sudah terlalu malam untuk kembali ke rent houseku.

Ummi dan keluarganya sangat baik kepadaku. Keluarga muslim yang sangat menyenangkan. Suaminya bukan berasal dari Indonesia tapi insya Allah shaleh dan sangat baik. Pagi itu saat autumn udara sangat dingin kami sarapan pagi bersama. Ummi bercerita sedikit tentang penyakit  yang dideritanya  beliau menderita penyakit tumor ganas di payudaranya. Rasa sakit ini diawali ketika ummi mengandung anaknya yang ketiga.  Demi menjaga janin dalam kandungannya, ummi memutuskan menunda semua terapi agar si jabang bayi tak terkena berbagai efek buruk terapi kanker. Padahal menurut dokter kehamilan  meningkatkan hormon estrogen yang memacu pertumbuhan kanker payudara semakin ganas. Satu hal yang sangat luar biasa yang kupelajari dari ummi saat itu betap besar dan berat pengorbanan ummi untuk anaknya...Subhanallah..

Ummi akhirnya menjalani kemoterapi hormonal yang sudah dikonsumsi selama 6 tahun terakhir. Akhirnya setelah sekian lama, kemoterapi  ini akan segera dihentikan, dan ahli onkologi akan men "discharge" ummi karena sudah "disease-free" selama 6 tahun. Di Inggris ini, semua pasien mendapat follow up ketat pasca terapi, dan dia taat akan semua regimen terapi yang diberikan oleh para dokter. Terapi kanker di Inggris adalah salah satu yang paling maju di dunia, Cancer Research UK sangat terkenal dalam penelitian dan penemuan terapi-terapi baru untuk kanker.


Ternyata, ilmu manusia itu tak ada setitik pun dibandingkan ilmu sang Pencipta yang bahkan lebih luas dari samudera. Para dokter menemukan pertumbuhan sel-sel kanker itu lagi di hatinya. Serial kemoterapi pun dimulai lagi dengan segala efek samping tak mengenakkannya. Namun demikian, sel-sel kanker itu tetap tinggal, bahkan semakin meluaskan penjelajahannya ke tulang-tulang dada dan iganya. Radioterapi pun dijalaninya. Hingga sudah semua modalitas terapi dilakoninya, tampaknya Sang Penguasa Alam Raya ingin mengajarkan padaku bahwa kuasa dan keputusan Nya adalah hukum dan hasil yang pasti berlaku. Dunia kedokteran yang dengan bangga menyatakan "disease-free" itu rupanya hanya arogansi manusia belaka.

Menjenguknya beberapa hari lalu di rumah sakit, dengan senyum mengembang dan mata kuning (karena jaundice) ummi menceritakan hasil CT scan yang baru diberitakan oleh para dokternya. 
"Alhamdulillaah, kata dokter, kanker sudah menyebar kemana-mana", begitu katanya... "Alhamdulillaah, nyeri hebat di seluruh badan sampai kalo tak tahan lagi, terpaksa morfin ini diminum... Alhamdulillaah masih berasa nyeri, kalo ga berasa, tentu sedang koma...", begitu katanya ringan sambil tersenyum. "Alhamdulillaah...", begitu katanya berulang-ulang. "Alhamdulillaah, mudah-mudahan ikhlas... Allah yang akan mengurus anak-anak nanti insha Allah...", ujarnya tetap tersenyum.

"Dokter sudah bilang, 'we are sorry that there is nothing we can do, you can go home if you'd like to'," sambungnya. "Saya ingin pulang saja supaya bisa bersama anak-anak. Mohon dimaafkan segala kesalahan yaa...", begitu katanya, masih dengan nada ringan.


Saat itu aku bersama ummahat yang lain menjenguk ummi di rumah sakit, kulihat wajahnya begitu tegar dan telihat tabah. Jujur saja di usiaku saat ini aku belum pernah bertemu dengan pasien kanker dan aku merasa kagum luar biasa dari ummi apalagi beliau bercerita masih bisa shalat 5 waktu dengan posisi "normal" seperti biasa. Beliau melanjutkan semenjak keadaan tubuhnya yang semakin drop suaminyalah yang mengambil alih peran rumah tangga. Mulai dari bangun jam 2 malam kemudian bekerja sampai sekitar pukul 8 pagi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, mengantarkan sekolah anak-anak. Sekembalinya dari mengantarkan sekolah, abi (panggilan untuk suaminya ummi) menyiapkan segala keperluan ummi, memandikan, menyuapi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, sampai kemudian menjemput anaknya kembali. Sambil tersenyum ummi berkata Abi itu orangnya apik kalau kerja pasti bersih dan rapi. Tidak terbayang betapa berat peran yang harus Abi jalani mengurus 3 orang anak, ummi yang sedang menderita penyakit berat dan tetap bekerja agar bisa memutar roda ekonomi keluarga. 

Saat itu aku  sedang menemani ummi menunggu Abi menjemput di lobi rumah sakit. Dari kejauhan terlihat mobil Abi sudah datang kemudian ummi segera mengakhiri ceritanya dengan mengatakan semoga Allah memberikan kekuatan untuk Abi dan anak-anak ummi, tetap menjadi shaleh dan shalehah dan tidak terpengaruh budaya barat. Cerita ini diceritakan ummi saat aku dan ummi akan pulang dari rumah sakit setelah dokter memutuskan ummi boleh pulang karena dokter sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Udara cukup dingin saat itu angin bertiup sangat kencang dan diiringi hujan yang cukup deras. Abi mendorong kursi roda ummi ke mobil dan membantu menaikkan ummi ke mobil. Aku berusaha membantu membawa barang-barang ummi dari rumah sakit. Sebelum menjalankan mobil Abi menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk ketiga anak-anaknya kemudian mobil berjalan.

Baru sepuluh menit perjalanan, ummi teringat "painkiller" untuk meringankan rasa sakit ummi belum diambil, mobil diputar balik kembali ke arah rumah sakit. Hujan mengucur sangat deras membuatku agak sedikit gelisah sebenarnya tapi anak-anak ummi tetap ceria dan berusaha mengajakku bercanda. Aku tahu ummi dan Abi juga terlihat sangat gelisah karena obat itu sangat penting untuk ummi. Sampai rumah sakit dengan menerobos hujan deras Abi turun dari mobil demi mengambil "painkiller" untuk ummi. Dalam hati aku mengagumi Abi.. Subhanallah betapa berat dan besar perjuangan Abi untuk ummi, Semoga Allah memberinya kekuatan...Singkat cerita hari itu adalah hari terakhirku bertemu ummi karena rupanya Allah punya rencana yang lebih indah untuk ummi..

Tanggal 11 May aku menerima berita mengejutkan  yang mengabarkan ummi meninggal. Entah kenapa rasanya sangat kehilangan sekali walaupun aku baru bertemu beliau dua kali. Tapi di sisi lain ada hikmah yag bisa diambil ummi tidak lagi merasakan sakit  yang dideritanya. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosa beliau, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya bidadari surga dan memberikan kesabaran, kekuatan untuk Abi dan anak-anaknya. Aamiin..

Kutipan dari seorang sahabat untuk ummi:

"Sahabatku, sungguh malu diriku berdiri di hadapanmu...
Betapa pelajaran yang kau berikan untukku sudah mencabik-cabik ketinggian hatiku atas majunya dunia kedpkteran manusia. Kisahmu mengajarkan, ilmu manusia jauh lebih sedikit dari sekedar terbatas...

Sahabatku, sungguh aku takjub padamu...
Hanya orang-orang terpilih seperti dirimu yang mendapat ujian begitu besar dari Sang Pencipta, ikhlas menerimanya, bahkan memanfaatkannya sebagai penggugur dosa...

Sahabatku, sungguh aku iri terhadapmu...
Sekarang kau menyibukkan diri untuk kehidupan akhiratmu, seakan detik berikutnya nyawamu sudah berpisah dari raga... Aku yang selalu merasa sehat, merasa malaikat maut pasti akan enggan mencabut nyawaku dalam waktu dekat, sibuk dengan segala urusan duniaku. Padahal bisa jadi takdir Pencipta tertulis sebaliknya...

Sahabatku, sungguh aku kagum padamu, suamimu, dan anak-anakmu...
Allah perlihatkan bagaimana hasil pendidikan ilahiyah Nya terhadap anak-anakmu, yang begitu dewasa merawat ibunya, di usia mereka yang masih dalam hitungan jari...

Terima kasih... terima kasih atas semua pelajaran yang kau berikan padaku selama ini... Tak mungkin bisa kubalas segala kebaikanmu... Hanya seuntai doa, yang mudah-mudahan Allah dengar, dariku yang kualitas penghambaannya hanya seujung kuku dirimu..."



Ummi semoga Allah memberikanmu tempat terindah disisiNya...Aamiin..


*Disadur dari catatan seorang sahabat dengan sedikit perubahan...


Best regards,


Rika reviza rachmawati






1 comment:

Unknown said...

mba rika,ibu itu aslinya orang mana ?