Thursday, 21 February 2013

Being international students

In the name of Allah the most gracious and the most merciful,,,,,


Sebuah karunia luar biasa dari Allah SWT yang harus aku syukuri, menjadi international students di sebuah universitas di Inggris, setiap saat ketika akau di kampus, jalan raya, station, supermarket or anywhere aku bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda bangsa, warna kulit, agama, ras, bentuk tubuh (perbedaan tinggi badan yang jauh) dan bahasa pastinya. Aku bersyukur sekali bisa tinggal di Inggris dimana orang-orang yang ada disini pasti menggunakan bahasa Inggris, at least aku masih bisa berkomunikasi dengan siapapun tanpa menemui hambatan yang berarti. Sempat denger cerita dari teman yang sedang study di Japan, beliau mengambil international class tapi tetep aja dengan masyarakat sekitar beliau harus berbahasa Japan, seru pastinya tapi akhirnya sering terjadi misperception, secara temanku tidak terlalu fluent berbahasa Japan. hehehe..

Di kampusku University of Greenwich aku punya temen dari berbagai negara mulai dari Spain, Turkey, Nigeria, Uganda, India, Pakistan, Libya, Botswana, Irak, Iran, China, Vietnam, Thailand, etc...menyenangkan sekali berteman dengan teman-teman berbeda negara itu kita biasanya saling sharing kondisi negara kita masing-masing, tentang exchange rate mata uang negara kita yang nilainya hampir pasti jauh dibandingkan dengan pounsterling, kebiasaan unik setiap negara, keindahan alam, our capital city, keluarga, bahkan sampai hal yang paling mendasar sekalipun yaitu tentang agama. Di sini hanya ada dua orang mahasiswa master dan satu orang mahasiswa PhD yang berasal dari Indonesia, jumlah yang sangat sedikit sekali dibandingkan dengan negara lain,  jadi mereka jarang sekali bertemu mahasiswa Indonesia.

In my course Natural Resourches Institute, yang muslimah hanya aku seorang, dan aku satu-satunya wanita yang mengenakan hijab, kalau laki-lakinya ada beberapa orang yang muslim, biasanya dari Nigeria, India, dan Irak. Aku memang terlihat paling beda diantara teman-teman yang lain, tapi luar biasanya disini sebagai international student rasa saling menghargai diantara kita itu tinggi banget. Sebenernya  gak hanya di kampus aku dihargai tapi selama aku di Inggris allhamdulillah aku tidak pernah merasakan diskriminasi sebgai seorang muslimah. Anugerah luar biasa yang patut aku syukuri...

Pernah suatu hari saat kuliah aku lupa mematikan prayer alarm dari handphoneku, jadi adzan berbunyi dari handphone saat lectureku sedang menjelaskan, setelah kuliah aku minta maaf ke teman-temanku yang merasa terganggu dengan adzanku, tapi mereka dengan tersenyum berkata, gpp itu indah sekali, kami senang mendengarnya. heheh... Allhamdulillah...^v^

Kadang saat kami berkomunikasi satu sama lain walaupun menggunakan bahasa Inggris tapi masih saja sering terjadi misperception, biasanya karena pengaruh aksen yang berbeda dari tiap negara, apalagi kalau mendengar orang asia seperti Vietnam atau Thailand berbicara agak sulit untukqu untuk mencernanya, dibanding aku berbicara dengan British asli atau teman-temanku dr Europe atau African countries,,tapi justru disitu serunya kami jadi saling belajar satu sama lain, mencoba mengerti, dan memahami bahkan kadang saling tertawa mendengar aksen bahasa yang agak aneh ditelinga kami..


Hal lain yang unik adalah waktu aku berkenalan dengan student pria yang berasal dari Nigeria, mereka mempunyai kebiasaan memberikan pelukan persahabatan meskipun itu berbeda gender. Aku dengan tegas mengatakan sebagai seorang muslimah aku tidak melakukan itu kepada lawan jenisku. Temanku ini menghargaiku dan dia memeinta maaf karena dia menganggap ini hanya sekadar tradisi perkenalan. lalu kamipun tertawa bersama kami memang berbeda dalam segala hal, namun tetap bisa menjadi teman yang baik.

Di kampus aku join student union  yaitu islamic organization namanya Medway ISOC. Medway itu adalah nama daerah tempatku tinggal dan tempat kampusku berada sekarang, sedangkan ISOC abbreviation dari Islamic Organization Community. Kenapa aku join dengan organisasi islam aku memang ingin sekali mengenal islam dari berbagai negara dalam satu waktu...Subhanallah banget rasanya aku pertama kali datang ke acara sisters circle, kalau di Indonesia disbut dengan keputrian. Materinya waktu itu tentang Hijab, dan yang kemarin materinya tentang dakwah. Kebanyakan teman-temanku di organisasi ini berasal dari Pakistan, Libya, Bangladesh, Afghanistan, dan beberapa orang dari Nigeria. Susah sekali menemukan British asli yang muslim di tempatku...mungkin insya Allah suatu hari aku bisa ketemu muslimah British asli, pasti seru... 

Banyak hal yang kami bicarakan saat berkumpul selain belajar islam tentunya aku juga bisa sharing  keadaan muslim di negara masing-masing misalnya seperti di Libya yang baru-baru ini terjadi revolusi bersar-besaran pasca kepemimpinan Moamar Khadfi turun dari kursi kepresidenan, masalah Ahmadiyah yang ternyata tumbuh subur di London, perbedaan Sunni-Syiah bahkan sampai masalah masakan, seru deh secara kami berbeda bangsa jadi banyak sekali perbedaan. Hal yang  biasa  tapi selalu rasanya berbeda ketika mereka dengan tulus mengucapkan Assalamualaikum ketika mereka bertemu denganku atau sekedar menyapa bertanya kabar, dan bersyukur atas nikmat Allah yang kami terima hari ini. Mereka semua berbeda course denganku kebanyakan Bachelor degree, mulai dari medical sciences, pharmacist, business, etc,  aku rasanya seperti membuktikan Al-qur'an  surat  Al-Hujurat ayat  13, Allah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal...Allhamdulillah..

Banyak sekali hal luar biasa yang kudapat disini setiap moment berinteraksi sebagai international student itu adalah pengalaman baru untukku, aku belajar menghargai orang lebih baik lagi, selalu mengucapkan thank you walaupun untuk hal yang sepele sekalipun, tersenyum tulus sambil mengucapkan May Allah grant you good, atau menyapa salam bila bertemu sesama muslim walaupun beliau itu seorang security yang aku temui di sebuah supermarket tentu rasanya amat sangat berbeda dibanding waktu aku di Indonesia dulu dimana muslim adalah jumlah mayoritas. 

The most important thing  adalah aku sebagai representasi dari kebaikan dan keindahan islam itu sendiri.  Oiyah yang paling membahagiakan adalah saat bertemu saudaraku sesama muslim disini mereka selalu senang ketika tahu darimana aku berasal. Mereka menyadari Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Mereka bilang Indonesia itu negara yang indah menurut berita, orangnya ramah-ramah, dan traditional foodnya enak bgt. Pernah ada temanku seorang akhwat yang berasal dari Pakistan  beliau cerita sewaktu umroh pernah bertemu dan ditolong dengan seorang wanita yang berasal dari Indonesia, semenjak itu beliau selalu berfikir orang Indonesia itu baik.  hehehe antara senang dan miris mendengarnya...

Menjadi international student itu aku seperti menjadi ambasador untuk bangsaku, aku harus membuat pencitraan bahwa Indonesia adalah bangsa yang beretika, disiplin, cerdas, ramah etc. Sebenernya itu bukan kewajiban tapi aku merasa harus melakukan itu semua, aku tidak mau tertinggal dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Aku selalu berusaha yang terbaik disini. Semoga Allah memudahkan segala urusanku, dan mengizinkanku mencapai cita-cita dan mimpi-mimpi besarku. Aaminn...


Bersama teman-temanku dari Turki dan Iran
Best regards,




Rika reviza rachmawati

Monday, 11 February 2013

Muslim Family in England



In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
All the praises and thanks be to Allah, the Lord of the Alameen (mankind, jinns, and all that exists).

Subhanallah banget rasanya ketemu kelauarga Indonesia muslim disini, gak ada rasanya kata-kata yang tepat untuk menggambarkan rasa syukurku kepada Allah SWT, betapa beruntungnya aku. Di tengah kesendirianku menempuh study Master di Inggris, Allah mengijinkanku bertemu dengan orang-orang shaleh dan shalehah ini. Banyak hal yang kupelajari disini dan yang pasti aku belajar betapa indahnya ukhuwah sejati sesama muslim itu justru ketika aku bukan di negara muslim. Aku belajar arti ukhuwah sejati, muslim yang satu dan yang lain itu diibaratkan satu tubuh justru ketika aku berada ribuan kilometer dari negaraku tercinta, Indonesia.


Pertama kali aku bertemu di KBRI dengan seorang ummahat baik hati bernama uni Diana, beliau memiliki 3 orang anak, 2 perempuan dan satu orang laki-laki. Anaknya yang paling kecil namanya Isma. Umurnya baru 4 tahun, Cantik, lucu & menggemaskan. Uni Diana yang baik ini pernah menolongku ketika aku harus pulang kuliah jam 10 malam karena ada inaugural lecture di London. Uni Diana dan suaminya menjemputkan di stasiun padahal waktu itu keadaan hujan cukup deras. Sampai dirumahnya aku makan tiramisu lezat buatan beliau, tidur di kamar anak perempuannya dan esok paginya aku disiapkan sarapan kari ayam. hmm yummy, baik banget beliau padahal beliau sama sekali tidak mengenalku. Semoga Allah menambahkan rizki untuk keluarga beliau...


Next aku bertemu lagi dengan seorang ummahat shalehah yang sedang menemani suaminya menyelesaikan PhD di University of kent, namanya teh Efsa. Rumah beliau lumayan jauh di Dover, one step closer to France. Kata teh Efsa dari tempat beliau bisa naik feri untuk menuju France. Waktu aku datang teh Efsa menyiapkan pempek buatan beliau dan soto ayam. wah mantap apalagi ketika aku datang sedang hujan deras. Allhamdulillah silahturahmi memang memperluas rizki.^^


Namanya mba Aan, beliau tinggal di Gravesend, masih sekitar Kent, lumayan dekat dari tempatku hanya perlu naik bus sekitar 45 menit. Beliau menikah dengan orang Algeria, anaknya ganteng dan cantik-cantik, namanya Abdullah, Maryam, Khadijah. Sewaktu aku dirumahnya aku disuguhi opor ayam dan blackforest. Mba Aan ini sedang menjalani kemoterapi karena penyakit cancer yang di deritanya. Salut banget sama beliau aku belajar hal yang sangat luar biasa dari beliau, belajar bersyukur betapa kesehatan adalah sesuatu yang sangat berharga. Seperti mba Aan, walaupun sakit yang melemahkan kondisi tubuhnya tapi beliau tetap bersemangat menjalani hidup. Semoga Allah memberikan mba Aan  kesehatan dan memberikan keluarganya keluasan rizki.


Rumahnya di Abbey Wood, London, namanya Mba Rani. Beliau sudah memiliki permanent residence di Inggris. Suaminya, pak Susilo bekerja sebagai journalist di BBC UK. Mba Rani memiliki 3 orang anak,  Kirana, Alysa dan Saladin yang masih berumur 10 bulan. Mba Rani ini juara banget kalo masak. Maknyus ala pak Bondan, susah buat gak nambah kalau mba Rani yang masak. Sewaktu aku ke rumah beliau aku makan nasi uduk, ayam balado, somay, hmm delicious..Seneng deh sama mba Rani, baik banget semoga Allah memberikan keberkahan untuk keluarga beliau...


Saat Christmas holiday aku bersilahturahmi ke Rayners lane, rumahnya mba Mila. Beliau memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu namanya Umar yang berumur 7 tahun, Maryam 4 tahun dan yang terakhir Hamzah 2 tahun. Mba Mila ini tipikal ibu modern yang cerdas. Berpendidikan PhD  major Physics, di salah satu universitas di Scotland. Beliau tidak bekerja karena memutuskan untuk menjadi full time mother untuk anak-anaknya.  Sewaktu kesana aku dibuatkan masakan India karena suami beliau orang India, wah I have no words to explain....enak banget,(^*^)// . Beliau ini disiplin banget sama anak-anaknya, keren banget semoga suatu hari aku bisa menjadi ibu cerdas seperti beliau...


Mba Iffah adalah seorang ummahat muda yang baru berumur 31 tahun. Beliau memiliki 4 orang anak yag tidak terlalu jauh umurnya. Yang paling kecil namanya Nafis yang baru berumur 2 bulan. Mba iffah ini sudah mendapat permanent residence juga di Inggris, beliau sudah lebih dari 10 tahun tinggal disini. beliau lulusan pesantren jadi bacaan Qur'annya sangat bagus. Sewaktu aku kesana aku melihat bagaimana mba Iffah mendidik anaknya yang baru berumur 5 tahun tapi mengaji sudah sampai juz 7. Beliau juga menekankan anak-anaknya untuk menghafal Qur'an. Beliau juga bercerita betapa berat tantangan yang harus dihadapi orangtua muslim yang harus membesarkan anaknya di Inggris dimana islam sebagai agama minoritas disini. Beliau bersyukur dulu memiliki bekal agama yang cukup sehingga bisa bisa membekali anak-anaknya dengan ilmu keislaman. Salut buat mba Iffah atas kesabaran, telaten dan gak pernah ngeluh walaupu  repot mengurus anak setiap saat...*peluk mba Iffah..hehe


Ketemu orang Surabaya di England itu sesuatu yang cetar membahana yah... aku ketemu dengan mba Luluk, beliau baik banget, karena tahu ibuku berasal dari Surabaya beliau membuatkanku masakan khas Surabaya namanya Rawon. Hmmm rsanya ini rawon terenak yang pernah aku makan. May Allah grant you good mba Luluk..


Allhamdulillah, sebuah kenikmatan yang luar biasa bisa bertemu mereka semua. Perasaan kesepian karena berpisah dengan perbedaan waktu 6 jam dengan Indonesia seakan terobati ketika aku bertemu muslim family disini. Semoga Allah menambah rizki, keberkahan, mengampuni dosa-dosa mereka, dan menganugerahi mereka anak keturunan yng shaleh dan shalehah.  Amiin...\(^v^)/





Best regards,




Rika reviza rachmawati

Thursday, 7 February 2013

Mulianya seorang Muslim




In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. All praise be to Allah the Lord of Allah the worlds. Peace and Blessings be upon His final Messenger Muhammad. May Allah forgive me for any error in this humble work, as perfection is Divine, and may He reward me in the Hereafter.


Kisah ini kudapat ketika mengikuti acara dauroh tarqiyah di London, 26 January 2013 lalu. Sebuah kisah tentang sumuliyatul islam yang diajarkan oleh para sahabat nabi kepada kita semua umat islam di akhir zaman. Kisah luar biasa yang membuatku berfikir sudahkah aku melakukan hal yang sama terhadap saudaraku sesama muslim disana?

Kisah ini terjadi pada zaman Umar bin Khatab ketika beliau menjadi seorang khalifah. Ketika itu ada seorang pemuda shaleh yang sedang dalam perjalanan jauh datang ke kota Madinah dengan menggunakan untanya. Pemuda shaleh ini kemudian menambatkan untanya di pohon karena beliau ingin shalat di masjid terdekat.

Setelah shalat betapa terkejutnya pemuda ini ternyata unta yang dia gunakan untuk perjalanan telah mati dibunuh oleh oleh seorang lelaki tua. Tiba-tiba pemuda ini melakukan kekhilafan, saking marahnya akhirnya pemuda ini membunuh lelaki tua ini. Setelah kejadian itu terjadi keluarga sang lelaki tua amat sangat marah dan menuntut kepada sang khalifah  Umar bin Khatab radiyallahanhu agar sang pemuda ini dihukum  qisas.  Sesuai dengan hukum islam yaitu darah harus dibayar dengan darah. Artinya pemuda ini harus dihukum mati.

Pemuda ini siap untuk menjalani hukumannya sebagai bentuk penyesalan akan kesalahannya dan bentuk tanggungjawabnya, tapi sebelum menjalani hukuman mati pemuda ini memohon kepada sang khalifah Umar agar menunda hukumannya satu hari saja, karena dia harus terlebih dahulu kembali ke kampung halamannya karena ada hal penting yang harus diselesaikan sebelum beliau meninggal. Khalifah Umar  dengan bijaksana berkata akan mengijinkan pemuda ini untuk kembali dulu ke kampung halamannya tapi dengan syarat harus ada orang yang bersedia menjadi penjamin pemuda ini kalau ternyata pemuda ini tidak kembali esok hari maka sang penjamin yang akan menggantikan pemuda ini untuk menjaani hukuman mati.

Seorang sahabat yang shaleh yaitu Salman Al Farisi menjawab, saya bersedia menjadi penjamin pemuda ini, selama beliau kembali ke kampung halamannya. Semua orang terheran-heran mengapa Salman rela menjadi penjamin untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya? namun Salman tetap pada pendiriannya. Beliau bersedia menjadi penjamin pemuda ini. Akhirnya pemuda ini diijinkan oleh khalifah Umar bin Khatab untuk pulang ke kampung halamannya terlebih dahulu dengan syarat besok pada pukul 12 siang harus sudah kembaili ke Madinah, jika tidak Salman yang akan menjalani hukuman mati, dan pemuda itu menyanggupi persyaratan dari sang khalifah.

Esoknya tepat pukul 12 siang, sesuai dengan waktu yang dijanjikan oleh Khalifah Umar kepada sang pemuda hukuman mati Qisas akan berlangsung. Sahabat Salman dengan tenang siap menunggu sang pemuda. Lewat beberapa jam dari jam 12 siang ternyata sang pemuda tak kunjung tiba, para penduduk Madinah mulai panik, mereka takut Salman yang akan dihukum Qisas. Besarnya kecintaan mereka terhadap Salman membuat beberapa sahabat mengajukan diri untuk menggantikan Salman namun Salman dengan tenang mengatakan apapun yang terjadi saya sudah siap menghadapi konsekuensinya. Karena waktu yang dijanjikan sudah lewat akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk memulai eksekusi.

Tiba-tiba dari kejauhan tampaklah seorang pemuda yang berlari dan nampak kelelahan, ya dialah pemuda yang harusnya menjalani hukuman Qisas itu. Pemuda ini langsung menghadap sang khalifah Umar dan memohon maaf atas keterlambatannya, karena dalam perjalanan tadi pemuda ini menghadapi masalah dengan untanya. Hingga akhirnya beliau harus telat untuk sampai ke Madinah. Mungin kalau di zaman modern motornya mogok. hehe...  

Akhirnya sebelum hukuman Qisas dilaksanakan, Khalifah Umar yang terkesan dengan kedatangan pemuda ini bertanya "mengapa kamu datang kembali padahal kamu tahu jika kamu datang kesini kamu akan menghadapi hukuman mati"? pemuda ini menjawab " saya seorang muslim, wajib bagi seorang muslim untuk menepati janji. Saya tidak ingin orang akan mengenal islam sebagai agama yang suka mengingkari janji. Karena barang siapa yang mengingkari janji dia adalah seorang munafik.

Kemudian Khalifah Umar bertanya kepada Sahabat Salman, mengapa kamu rela untuk menjadi penjamin pemuda ini padahal kamu belum pernah bertemu dengan pemuda ini sebelumnya, padahal bisa jadi pemuda ini tidak akan datang dan kamu akan  kehilangann nyawamu? Sahabat Salman menjawab, walaupun saya belum pernah berjumpa dengan pemuda ini sebelumnya, tapi saya yakin pemuda ini adalah pemuda shaleh yang akan menepati janjinya, saya tidak perduli  jika saya harus mengorbankan nyawa saya untuk orang lain, saya hanya ingin orang akan mengenal islamsebagai agama yang umatnya saling perduli dengan urusan saudaranya. 

Tiba-tiba keluarga lelaki tua ini berkata, baiklah khalifah Umar saya maafkan pemuda ini, saya batalkan hukuman qisas ini. Akhirnya pemuda ini tidak jadi menjalani hukuman mati. Khalifah Umar bertanya mengapa kamu membatalkan hukuman Qisas ini? keluarga lelaki tua ini menjawab, kami tidak ingin orang mengenal islam sebagai agama yang tidak bisa memaafkan kesalahan saudaranya, kami ingin orang mengenal islam sebagai agama yang umatnya  pemaaf terhadap saudaranya sesama muslim.

Subhanallah sebuah kisah yang luar biasa yang bisa dijadikan hikmah untuk kita semua. Betapa mulianya akhlak seorang muslim. Pribadi yang berkilau dan mempesona, karena kita semua adalah model untuk keindahan islam itu sendiri. Ketika saat ini sesama muslim saling menjatuhkan satu sama lain, menuding, seakan-akan lupa kalau sejatinya muslim itu satu tubuh kita bersaudara satu sama lain. Berkaca terhadap sifat para sahabat, mari kita tunjukkan pada dunia betapa mulianya akhlak seorang muslim.



Bet regards,



rika reviz rachmawati