In the name of Allah The Most Gracious and The Mot Merciful
Allhamdulillah sudah hampir 5 bulan aku survived di England merasakan
pahit, manis, susah, senang, dan beratnya kuliah master di Inggris. Negeri
terbesar penerima International students setelah America dan peringkat 6
education systems terbaik dunia setelah Finlandia, South Korea, Jepang dan
Hongkong (satu negara lagi aku lupa ;p). Justru peringkat Middle class ditempati oleh
America, Germany, Canada, and France. Sedihnya peringkat terakhir justru
ditempati oleh Meksico, Brazil dan Indonesia menurut laporan dari BBC news. Maka
betapa beruntungnya aku bisa merasakan kualitas pendidikan terbaik dunia, dan
seiring berjalannya waktu aku baru tahu kenapa England bisa jadi yang terbaik
karena memang iklim perkuliahan disini menuntut kita untuk selalu berkompetisi.
Berkompetisi secara sehat, menjadi yang terbaik dan memaksimalkan segala
potensi yang kita miliki.
Anyway, kita mulai dari sistem perkuliahan disini berlaku yang namanya my
lecture is my partner. Hierarki pendidikan yang biasa terjadi di Indonesia,
kedudukan dosen yang biasanya selalu lebih tinggi tidak berlaku disini. Dosen
adalah sharing partner untuk
mahasiswa begitu pula dosen tidak akan pernah memandang rendah kemampuan setiap
mahasiswanya. Rasa respect each others
yang sangat tinggi terlebih karena kita international
students membuat kuliah jadi terasa menyenangkan. Sekalipun kita salah
dalam mengungkapkan pendapat kita terhadap suatu masalah lecture tidak akan pernah mengatakan itu salah. Tapi berusaha
membenarkan tanpa membuat kita merasa rendah diri. On the other hand, kalau kita bisa memberikan pertanyan yang sangat
bagus menurut lecture atau menjawab
pertanyaan lecture dengan jawaban
yang memuaskan mereka tidak akan segan memuji di depan satu kelas. Well down!!
My assignment, kebanyakan tugas yang diberikan dosen adalah essays
yang semuanya mengharuskan kita untuk critical thinking yang mau enggak mau
membuat kita membaca minimal 30 journal atau 10 text books hanya untuk membuat
2500-3000 words, setara dengan 10 pages. Sedikit yah kelihatannya? Tapi jangan
salah disini yang namanya copy-paste itu termasuk criminal offence. Even though
kita tambahkan reference di ujung paragraf yang kita buat. Mereka menuntut kita
untuk pharaphrase. Pharaphrasing adalah proses mengambil ide orang lain tapi
kita rubah dengan kata-kata sendiri yang menuntut pemahaman kita terhadap suatu
permasalahan tapi tetap dengan menambahkan reference di awal atau di akhir
paragraf. Pharaphase menuntut pemahaman, penguasaan vocabulary yang luas, dan
skill pastinya. Kebayang kan kalau setiap sentence harus kita pharaphase betapa
kerja keras banget. Pokoknya kalau udah ada tugas essay Library itu udah kaya rumah kedua mulai
dari jam 9am-6pm. Itupun masih lanjut lagi di kosan wide awake sambil ditemani 5 cups Robusta coffee (supaya kuat bergadang).
Sebenernya Library masih buka sampai midnight
tapi berhubung kosanku agak jauh sekitar 20 menit darikampus jadi aku gak
berani pulang terlalu malam.
Saat-saat mendekati submit deadline adalah saat yang kadang paling bikin
frustasi. Telat 1 menit submit online bisa panjang urusannya. Belum lagi resiko
nilai dikurangin 10% (Gak usah dikurangin aja belum tentu nilainya bagus
apalagi pake dikurangin ;P). Submit online dengan mengunakan Turnitin, sejenis
software canggih yang bisa mendeteksi kalau kita cuma copy-paste dari journal
even yang kita copy-paste cuma satu paragraf dia bisa langsung detect karena di dalam mesin itu udah tersimpan jutaan
journal dari seluruh dunia makannya dia bisa langsung tahu. Lebih dari 25% similarity it means failed, oiyah kalau dosen bilang
maksimal 2500 words kita bikin 2501 kita bisa failed karena lebih dari minimum
yang di tugaskan begitu pula sebaliknya. Complicated banget yah... puffhh
Next Supervisor thesisku yang baik hati yang bernama Dr. Tim Acott. Waktu
pertama kali aku masuk ke ruangan beliau untuk berdiskusi tentang thesis ku,
tiba-tiba beliau mengucapkan “Selamat
Datang”. Surprisingly, He can speak Bahasa, even just Selamat datang. Ternyata
istri beliau berasal dari Surabaya, istrinya seorang guru bahasa Inggris
sebelum bertemu dan kemudian mereka memutuskan menikah. Allhamdulillah, beliau
sangat baik dan pengertian. Kami mengobrol hangat mulai dari soal cuaca,
aktivitas kami, makanan halal untukku pastinya, dan tentu saja thesisku.
Sebelum pertemuan pertama itu aku mencoba membuat analysis SWOT (Strenght,
Weakness, Opportunity, Threat) untuk topic thesis ku. Beliau sangat menyukai
analysis yang ku ajukan dan berkata ini langkah awal yang sangat bagus untuk
memulai project thesisku. Allhamdulillah, kemudian setelah kami berdiskusi
beliau meminta progress thesisku tgl 12 April 2013 nanti. Okee need extra hard
work, read a lot of books, and critical thinking pastinya...
Hmm oke kita lanjut nanti yah cerita seru tentang education systems in The
UK masih banyak hal menarik lainnya yang sebenernya bisa di share tapi
berhubung banyak essays yang menanti untuk dikerjakan jadi tunggu part 2 nya
aja yah....
Best Regards,
Rika reviza rachmawati