Sunday, 31 March 2013

Education Systems in The United Kingdom




In the name of Allah The Most Gracious and The Mot Merciful

Allhamdulillah sudah hampir 5 bulan aku survived di England merasakan pahit, manis, susah, senang, dan beratnya kuliah master di Inggris. Negeri terbesar penerima International students setelah America dan peringkat 6 education systems terbaik dunia setelah Finlandia, South Korea, Jepang dan Hongkong (satu negara lagi aku lupa ;p).  Justru peringkat Middle class ditempati oleh America, Germany, Canada, and France. Sedihnya peringkat terakhir justru ditempati oleh Meksico, Brazil dan Indonesia menurut laporan dari BBC news. Maka betapa beruntungnya aku bisa merasakan kualitas pendidikan terbaik dunia, dan seiring berjalannya waktu aku baru tahu kenapa England bisa jadi yang terbaik karena memang iklim perkuliahan disini menuntut kita untuk selalu berkompetisi. Berkompetisi secara sehat, menjadi yang terbaik dan memaksimalkan segala potensi yang kita miliki.

Anyway, kita mulai dari sistem perkuliahan disini berlaku yang namanya my lecture is my partner. Hierarki pendidikan yang biasa terjadi di Indonesia, kedudukan dosen yang biasanya selalu lebih tinggi tidak berlaku disini. Dosen adalah sharing partner untuk mahasiswa begitu pula dosen tidak akan pernah memandang rendah kemampuan setiap mahasiswanya. Rasa respect each others yang sangat tinggi terlebih karena kita international students membuat kuliah jadi terasa menyenangkan. Sekalipun kita salah dalam mengungkapkan pendapat kita terhadap suatu masalah lecture tidak akan pernah mengatakan itu salah. Tapi berusaha membenarkan tanpa membuat kita merasa rendah diri. On the other hand, kalau kita bisa memberikan pertanyan yang sangat bagus menurut lecture atau menjawab pertanyaan lecture dengan jawaban yang memuaskan mereka tidak akan segan memuji di depan satu kelas. Well down!!

My assignment, kebanyakan tugas yang diberikan dosen adalah essays yang semuanya mengharuskan kita untuk critical thinking yang mau enggak mau membuat kita membaca minimal 30 journal atau 10 text books hanya untuk membuat 2500-3000 words, setara dengan 10 pages. Sedikit yah kelihatannya? Tapi jangan salah disini yang namanya copy-paste itu termasuk criminal offence. Even though kita tambahkan reference di ujung paragraf yang kita buat. Mereka menuntut kita untuk pharaphrase. Pharaphrasing adalah proses mengambil ide orang lain tapi kita rubah dengan kata-kata sendiri yang menuntut pemahaman kita terhadap suatu permasalahan tapi tetap dengan menambahkan reference di awal atau di akhir paragraf. Pharaphase menuntut pemahaman, penguasaan vocabulary yang luas, dan skill pastinya. Kebayang kan kalau setiap sentence harus kita pharaphase betapa kerja keras banget. Pokoknya kalau udah ada tugas  essay Library itu udah kaya rumah kedua mulai dari jam 9am-6pm. Itupun masih lanjut lagi di kosan wide awake sambil ditemani 5 cups Robusta coffee (supaya kuat bergadang). Sebenernya Library masih buka sampai midnight tapi berhubung kosanku agak jauh sekitar 20 menit darikampus jadi aku gak berani pulang terlalu malam.

Saat-saat mendekati submit deadline adalah saat yang kadang paling bikin frustasi. Telat 1 menit submit online bisa panjang urusannya. Belum lagi resiko nilai dikurangin 10% (Gak usah dikurangin aja belum tentu nilainya bagus apalagi pake dikurangin ;P). Submit online dengan mengunakan Turnitin, sejenis software canggih yang bisa mendeteksi kalau kita cuma copy-paste dari journal even yang kita copy-paste cuma satu paragraf dia bisa langsung detect  karena di dalam mesin itu udah tersimpan jutaan journal dari seluruh dunia makannya dia bisa langsung tahu. Lebih dari 25% similarity  it means failed, oiyah kalau dosen bilang maksimal 2500 words kita bikin 2501 kita bisa failed karena lebih dari minimum yang di tugaskan begitu pula sebaliknya. Complicated banget yah... puffhh

Next Supervisor thesisku yang baik hati yang bernama Dr. Tim Acott. Waktu pertama kali aku masuk ke ruangan beliau untuk berdiskusi tentang thesis ku, tiba-tiba beliau mengucapkan “Selamat Datang”. Surprisingly, He can speak Bahasa, even just Selamat datang. Ternyata istri beliau berasal dari Surabaya, istrinya seorang guru bahasa Inggris sebelum bertemu dan kemudian mereka memutuskan menikah. Allhamdulillah, beliau sangat baik dan pengertian. Kami mengobrol hangat mulai dari soal cuaca, aktivitas kami, makanan halal untukku pastinya, dan tentu saja thesisku. Sebelum pertemuan pertama itu aku mencoba membuat analysis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) untuk topic thesis ku. Beliau sangat menyukai analysis yang ku ajukan dan berkata ini langkah awal yang sangat bagus untuk memulai project thesisku. Allhamdulillah, kemudian setelah kami berdiskusi beliau meminta progress thesisku tgl 12 April 2013 nanti. Okee need extra hard work, read a lot of books, and critical thinking pastinya...

Hmm oke kita lanjut nanti yah cerita seru tentang education systems in The UK masih banyak hal menarik lainnya yang sebenernya bisa di share tapi berhubung banyak essays yang menanti untuk dikerjakan jadi tunggu part 2 nya aja yah....

Best Regards,


Rika reviza rachmawati




No comments: