Menjadi International students
di Negara eropa terutama di UK ini adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Banyak
sekali yang bisa dipelajari meski hanya mendengar cerita dari sesama temanku yang
berasal dari negara lain. Pepatah bilang experience is the best teacher, tapi terkadang
belajar dari pengalaman lain tanpa harus mengalaminya sendiri hingga membuatku
sangat bersyukur dengan hidupku sekarang. Memang sepertinya terlihat menyenangkan
bisa belajar di Negara lain tapi dibalik semua itu terkadang permasalahan akademik,masalah
keluarga bahkan mungkin perbedaan bahasa bisa menjadi hal yang sangat berat untuk
International students.
Cerita pertama dari
temanku seorang PhD student dari Tanzania, sebuah Negara di Africa, yang belum
pernah terbayang seperti apa negaranya. Namanya Wahira, seorang akhwat berkulit
hitam manis. Pertama kali aku bertemu beliau saat aku shalat di prayer room
(sebuah ruangan kecil berbentuk seperti kelas yang disediakan universitas untuk
kami umat muslim melaksanakan shalat). Wahira ini berusia sekitar 30 tahunan
dan sudah memiliki dua orang anak berumur 6 tahun dan 3 tahun (masih kecil
sekali yah anaknya) sayangnya karena harus menyelesaikan PhDnya beliau
meninggalkan anaknya di Tanzania. Beliau bercerita tentang research untuk
disertasinya. Awal proposal researchnya tentang insect yang menyerang hutan mangrove
di Tanzania. Karena proposalnya yang menarik akhirnya beliau mendapatkan
rekomendasi untuk memulai PhDnya di Universitas yang sama denganku mengambil
master saat ini. Namun keadaan berkata lain ternyata saat Wahira akan memulai penelitiannya,
populasi insect di hutan mangrove sudah tidak ada lagi dan terpaksa wahira
harus mengganti research proposal beliau dan kembali memulai semuanya dari
awal. Tak jarang saat bimbingan dengan supervisornya setelah beliau meyerahkan
20 lembar (sekitar 6.000-7000 words), kemudian sang supervisor hanya berkata “
this is rubbish” wow,,, terbayang bukan pekerjaan sebanyak itu hanya dihargai “rubbish”.
Expectation mereka memang sangat tinggi apalagi untuk ukuran PhD. Quite
challenging, isn’t it?
Wahira juga cerita
beratnya menghadapi PhD Viva, ini seperti sidang untuk PhD “oral examination”
dengan dua orang external examiners tujuannya adalah untuk menguji content
disertasi yang dibuat oleh PhD student apakah memenuhi standard atau tidak.
Ujiannya tanpa limit waktu bisa jadi seharian, dengan penguji yang bisa jadi
berasal dari UK atau dari luar UK. Sehingga hasilnya akan sangat objective
karena penguji dan student tidak punya hubungan apa-apa. Hasilnya bisa
bervariasi bisa failed dan kita pulang hanya dengan gelar M.phil (Master of
Philosophy) karena dianggap disertasi kita belum layak, passed dengan minor
correction (ini yang cukup baik) atau passed dengan major correction (bisa jadi
kita menambah satu chapter lagi atau kembali mengambil data lagi di lapangan
atau di laboratorium lagi). Masalahnya adalah kalau kita international student
dan research di Negara asal student kembali ke “field” untuk mengambil data
pastilah sangat “expensive” seperti itulah sedikit gambaran beratnya PhD
student…
Lain lagi kisah tentang
seorang PhD student dari Syiria. Beliau juga seorang muslim, cukup cerdas
karena beberapa kali berhasil menerbitkan journal international. Namun
sepertinya Allah SWT sedang ingin menguji beliau. Beliau dinyatakan failed di
PhD Viva dan diharuskan mengulang kembali penelitiannya dari awal. Normalnya
PhD student itu hanya tiga tahun (itupun hanya yang brilliant yang bisa pas
tiga tahun). Dan sekarang sang PhD student tersebut sedang berada di tahun
keenam. hmmm kebayang kan beratnya..memang terkadang menyelesaikan PhD bisa
tanpa limit waktu…Kisah dramatis beliau semakin membuatku sedih karena seperti
yang diberitakan media saat ini Syiria sedang berada dalam keadaan krisis parah
setelah serangan senjata kimia pemerintahan Bashar Ashad yang telah berhasil
mengurangi jumlah penduduknya dari 70,000 jiwa menjadi 12,000 jiwa.Tidak pernah
terbayang olehku betapa parah keadaan di sana. Dan beliau saat ini benar-benar
lost contact dengan semua keluarganya di Syiria. Pernah saat beliau kembali ke
Syiria untuk mencari keluarganya
ternyata rumahnya sudah rata dengan tanah dan hilanglah kesempatan untuk
bertemu bahkan mencoba menghubungi keluarganya……
Hidup di UK ini bisa
terbilang cukup mahal karena perbedaan kurs poundsterling yang cukup tinggi
walaupun dibandingkan dengan dollar dan Euro. Terbayang olehku sekolah tanpa
beasiswa karena beasiswa beliau sudah dicabut karena PhDnya lebih dari tiga
tahun, sulitnya “research” dan lost contact dengan keluarga, entah mereka masih
hidup atau sudah meninggal,, May Allah make it easier your task....
Lain lagi dengan kisah
temanku dari Vietnam, sesama master student sepertiku. Sebut saja vita, beliau
mendapatkan banyak masalah dengan kuliah dan lecture ku karena “language
barrier” atau masalah bahasa. Vietnam language dan English memang totally
difference sehingga membuat mereka sangat kesulitan untuk berbicara dengan lancar
dan itu sangat menyulitkan mereka. Kebanyakan British memang mengerti masalah
keterbatasan bahasa ini tapi tetap saja karena bahasa adalah kunci untuk
berkomunikasi hal ini menjadi amat sangat penting. Vita memiliki seorang anak
dan suami di Vietnam beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah namun karena
permasalahan akademik beasiswanya terhenti, terpaksa vita harus bekerja di
restoran 3 hari seminggu, mulai pukul 6pm-2am. Terbayang betapa beratnya karena
sebagai seorang master student yang hanya setahun, kami benar-benar harus
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena dalam satu tahun kami harus
menyelasaikan thesis, research, kuliah, essays writing task dan exam sekaligus.
Sangat melelahkan dan tanpa jeda, apalagi lecture disini sangat menuntut kita
untuk berfikir kritis. Unlimited access untuk journal, reliable library membuat
seakan-akan no excuse kalau kita membaca hanya 30 journal untuk essay 2000
words. Seperti itulah sedikit gambaran kuliah di UK….
Masih banyak kisah
international students yang lain, yang tidak kalah dramatis dengan masalah yang
berbeda-beda pula tentunya. Yang terpenting aku selalu berdoa semoga Allah SWT
memberikan kami kemudahan dalam menyelesaikan study kami, karena sejatinya kami
juga sedang berjihad dalam bentuk belajar…Semoga apa-apa yang kami pelajari
bisa bermanfaat untuk umat banyak nantinya…
Students Trip to Cambridge for International Students
2 comments:
subhanallah.. serrruu teh baca kisah2 teteh disini :D :)
Salam kenal Hanipa...maaf baru bls jarang buka blog siy;)
Post a Comment