Saturday, 9 November 2013

My First EiD-aL-FITR IN THE UK

Puasa pertamaku  bulan Ramadhan ini tahun 2013 di UK saat summer holiday terasa sangat berbeda daripada puasaku sebelumnya di Indonesia. Sekarang aku hanya puasa berdua dengan teman satu rent houseku sesama mahasiswa muslim asal Indonesia yang berkuliah di University of Greenwich yang sama denganku.  Puasa di musim summer ini lamanya kira-kira hampir 20 jam karena dimulai dari subuh jam ½ 3 pagi dan maghrib jam ½ 10 malam. Tapi seiring perputaran waktu kita hanya puasa selam 18 jam saja. Jadi biasanya setelah berbuka kami langsung lanjutkan dengan shalat maghrib dan menunggu isya dan shalat taraweh sekaligus sekitar pukul 11 malam. Aku biasanya shalat taraweh di rent house ku karena untuk ke masjid yang terletak Gillingham aku harus mempuh perjalanan sekitar 45 menit (*maklum di tempatku ini muslimnya minoritas jadi belum ada masjid). Tapi pernah suatu kali aku mencoba shalat taraweh di masjid di Gillingham ternyata baru selesai jam 12 malam karena 23 rakaat dan kami harus sahur jam ½ 3 pagi jadi rasanya terlalu berat. Ditambah lagi di Gillingham itu banyak bar dan diskotik jadi kami harus berhadapan dengan para pemabuk di sepanjang jalan, rasanya riskan untukku sebagai perempuan untuk shalat taraweh di masjid…L

Allhamdulillah, saat Ramadhan aku ada kegiatan namanya Ramadan for Teens and Kids . Tugasku menjadi seorang fasilitator untuk para remaja dan anak-anak yang berumur 4-8 tahun di KBRI London. Acara ini di motori oleh mbak Fitri seorang mahasiswi dari Roehampton University dan dibantu oleh mahasiswa lainnya yaitu Devfanny Aprilia, mahasiswi di Westminster University, aku sendiri, mbak Luluk sorang guru, Ani domestic worker di London dan beberapa orang lainnya. Acaranya dibagi dua yaitu untuk remaja dan anak-anak. Di acara ini kita memperkenalkan tentang Ramadhan, tips-tips untuk tetap produktif selama Ramadhan, games pengetahuan keislaman, hafalan al-qur’an dll. Senang sekali rasanya aku bertemu dengan anak-anak yang masih polos, cerdas dan ceria ini. Dulu sebelum aku kuliah master, aku memang pernah menjadi seorang guru di Sekolah Alam Bandung, jadi aku punya cukup pengalaman berhadapan dengan anak-anak. Tapi terasa berbeda karena anak-anak ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Di acara ini kami harus memberikan mereka pengetahuan tentang Ramadhan karena anak-anak ini harus menghadapi tantangan yang lebih berat dalam berpuasa, waktu yang lebih panjang dan terkadang ditambah lingkungan sekitar yang kurang kondusif karena pastinya temen-temen disekolah mereka jarang yang berpuasa.

Aku sangat senang sekali apalagi saat tahu acara ini diliput oleh media Antar-London dan ini beritanya:http://ramadhan.antaranews.com/berita/388151/ramadhan-anak-dan-remaja-di-kbri-london.

Berfoto Bersama Anak-anak di Ruang Crutala KBRI-London

Akhirnya Eid-ul Fitr tiba pada tanggal 8 Agustus 2013. Shalat Eidnya di Gillingham mosque karena mbak Aini temanku harus submit Thesis dua hari lagi sehingga beliau tidak punya cukup waktu untuk shalat di Wisma Nusantara di Rumah pak Dubes Di London. Karena dari tempatku di Chatham-Kent ke London kami harus naik train sekitar 1 jam perjalanan. Sedangkan aku masih ada ujian dan Essay maklum walaupun sebenarnya ini summer holiday tapi untuk postgraduate students seperti kami yang hanya setahun nampaknya setiap hari itu hanya belajar (No free time) J

Shalat Eid dimulai pukul 9 pagi sebelumnya diisi dengan khutbah dengan berbahasa Inggris (untung aja biasanya suka pakai bahasa Urdu dan bahasa  Arab). Seru deh melihat muslimah dari berbagai Negara kebanyakan berasal dari India, Pakistan, Afganistan, Bangladesh, Iran, Irak, etc. Orang Indonesia hanya kami berdua. Tidak seperti masjid di Indonesia yang dilengkapi kubah besar. Masjid disini sangat sederhana hanya sebuah bangunan berwarna hijau dan bertuliskan “Jami Mosque Gillingham”. Tapi Allhamdulillah ternyata cukup banyak muslim di daerahku ini. Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Selesai shalat kami saling mengucapkan “Eid Mubaraak”. Allhamdulillah kami berhasil melalui bulan Suci ramadhan tanpa keluarga hanya bersama teman yang seperti saudara J
Masjid Gillingham Mosque

Suasana di dalam Jami Mosque Gillingham (Akhwat)

Setelah shalat Eid dan bersalam-salaman Aku dan mbak Aini langsung pulang menuju rumah mbak Wardah. Mbak Wardah adalah seorang PhD student di University of Greenwich. Mbak Wardah tinggal sendirian di Gillingham karena anaknya di Aceh. Mbak Wardah ini pintar masak dan beliau sudah menyiapkan nasi kuning dan rendang untuk kita…. Wah Allhamdulillah sebagai seorang anak kos yang jauh dari orang tua makan-makan seperti ini adalah momen yang sangat kami suka..hehe J .. Memang sedih berlebaran dan berpuasa jauh dari orangtua, adik, kakak dan saudara-saudara, tapi kalau mau melihat dari segi positifnya semua pengalamanku ini mengajarkanku banyak hal yang luar biasa, Ramadhan yang indah di 2013…J

Makanan lebaran kami yang tanpa ketupat dan opor Ayam tapi tetep Maknyos…J

Satu minggu setelah Idul Fitri di Wisma Nusantara yaitu tempat tinggal pak duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya, Hamzah Thayeb mengadakan acara silaturahmi dan makan-makan bersama. Biasanya acara ini dihadiri oleh warga Indonesia dari berbagai daerah di UK. Tadinya aku, aini dan Maha satu lagi temanku dari Indonesia. Kami sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara ini namun karena tube (kereta bawah tanah) yang menuju Wisma Nusantara sedang engineering works dan replacement bus nya tidak jelas akhirnya kami hanya berputar-putar disekeliling London dan kemudian kami ke Trafagal square (tourist site yang sangat terkenal di UK). Ternyata disini sedang ada acara bazar halal food dari berbagai Negara muslim seperti Malaysia, Arab, Turki, Pakistan, India, dll. Wah seru deh banyak sekali muslim yang hadir disini. Selain itu ada acara konser musicnya juga… heheh meski nyasar tapi tetap ada yang bisa kami nikmati…senangnyaJ
Eid festival 2013 Trafagal Square London,UK



Sunday, 27 October 2013

Suka duka “International Students”

Menjadi International students di Negara eropa terutama di UK ini adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Banyak sekali yang bisa dipelajari meski hanya mendengar cerita dari sesama temanku yang berasal dari negara lain. Pepatah bilang experience is the best teacher, tapi terkadang belajar dari pengalaman lain tanpa harus mengalaminya sendiri hingga membuatku sangat bersyukur dengan hidupku sekarang. Memang sepertinya terlihat menyenangkan bisa belajar di Negara lain tapi dibalik semua itu terkadang permasalahan akademik,masalah keluarga bahkan mungkin perbedaan bahasa bisa menjadi hal yang sangat berat untuk International students.

Cerita pertama dari temanku seorang PhD student dari Tanzania, sebuah Negara di Africa, yang belum pernah terbayang seperti apa negaranya. Namanya Wahira, seorang akhwat berkulit hitam manis. Pertama kali aku bertemu beliau saat aku shalat di prayer room (sebuah ruangan kecil berbentuk seperti kelas yang disediakan universitas untuk kami umat muslim melaksanakan shalat). Wahira ini berusia sekitar 30 tahunan dan sudah memiliki dua orang anak berumur 6 tahun dan 3 tahun (masih kecil sekali yah anaknya) sayangnya karena harus menyelesaikan PhDnya beliau meninggalkan anaknya di Tanzania. Beliau bercerita tentang research untuk disertasinya. Awal proposal researchnya tentang insect yang menyerang hutan mangrove di Tanzania. Karena proposalnya yang menarik akhirnya beliau mendapatkan rekomendasi untuk memulai PhDnya di Universitas yang sama denganku mengambil master saat ini. Namun keadaan berkata lain ternyata saat Wahira akan memulai penelitiannya, populasi insect di hutan mangrove sudah tidak ada lagi dan terpaksa wahira harus mengganti research proposal beliau dan kembali memulai semuanya dari awal. Tak jarang saat bimbingan dengan supervisornya setelah beliau meyerahkan 20 lembar (sekitar 6.000-7000 words), kemudian sang supervisor hanya berkata “ this is rubbish” wow,,, terbayang bukan pekerjaan sebanyak itu hanya dihargai “rubbish”. Expectation mereka memang sangat tinggi apalagi untuk ukuran PhD. Quite challenging, isn’t it?

Wahira juga cerita beratnya menghadapi PhD Viva, ini seperti sidang untuk PhD “oral examination” dengan dua orang external examiners tujuannya adalah untuk menguji content disertasi yang dibuat oleh PhD student apakah memenuhi standard atau tidak. Ujiannya tanpa limit waktu bisa jadi seharian, dengan penguji yang bisa jadi berasal dari UK atau dari luar UK. Sehingga hasilnya akan sangat objective karena penguji dan student tidak punya hubungan apa-apa. Hasilnya bisa bervariasi bisa failed dan kita pulang hanya dengan gelar M.phil (Master of Philosophy) karena dianggap disertasi kita belum layak, passed dengan minor correction (ini yang cukup baik) atau passed dengan major correction (bisa jadi kita menambah satu chapter lagi atau kembali mengambil data lagi di lapangan atau di laboratorium lagi). Masalahnya adalah kalau kita international student dan research di Negara asal student kembali ke “field” untuk mengambil data pastilah sangat “expensive” seperti itulah sedikit gambaran beratnya PhD student…

Lain lagi kisah tentang seorang PhD student dari Syiria. Beliau juga seorang muslim, cukup cerdas karena beberapa kali berhasil menerbitkan journal international. Namun sepertinya Allah SWT sedang ingin menguji beliau. Beliau dinyatakan failed di PhD Viva dan diharuskan mengulang kembali penelitiannya dari awal. Normalnya PhD student itu hanya tiga tahun (itupun hanya yang brilliant yang bisa pas tiga tahun). Dan sekarang sang PhD student tersebut sedang berada di tahun keenam. hmmm kebayang kan beratnya..memang terkadang menyelesaikan PhD bisa tanpa limit waktu…Kisah dramatis beliau semakin membuatku sedih karena seperti yang diberitakan media saat ini Syiria sedang berada dalam keadaan krisis parah setelah serangan senjata kimia pemerintahan Bashar Ashad yang telah berhasil mengurangi jumlah penduduknya dari 70,000 jiwa menjadi 12,000 jiwa.Tidak pernah terbayang olehku betapa parah keadaan di sana. Dan beliau saat ini benar-benar lost contact dengan semua keluarganya di Syiria. Pernah saat beliau kembali ke Syiria untuk mencari  keluarganya ternyata rumahnya sudah rata dengan tanah dan hilanglah kesempatan untuk bertemu bahkan mencoba menghubungi keluarganya……

Hidup di UK ini bisa terbilang cukup mahal karena perbedaan kurs poundsterling yang cukup tinggi walaupun dibandingkan dengan dollar dan Euro. Terbayang olehku sekolah tanpa beasiswa karena beasiswa beliau sudah dicabut karena PhDnya lebih dari tiga tahun, sulitnya “research” dan lost contact dengan keluarga, entah mereka masih hidup atau sudah meninggal,, May Allah make it easier your task....
Lain lagi dengan kisah temanku dari Vietnam, sesama master student sepertiku. Sebut saja vita, beliau mendapatkan banyak masalah dengan kuliah dan lecture ku karena “language barrier” atau masalah bahasa. Vietnam language dan English memang totally difference sehingga membuat mereka sangat kesulitan untuk berbicara dengan lancar dan itu sangat menyulitkan mereka. Kebanyakan British memang mengerti masalah keterbatasan bahasa ini tapi tetap saja karena bahasa adalah kunci untuk berkomunikasi hal ini menjadi amat sangat penting. Vita memiliki seorang anak dan suami di Vietnam beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah namun karena permasalahan akademik beasiswanya terhenti, terpaksa vita harus bekerja di restoran 3 hari seminggu, mulai pukul 6pm-2am. Terbayang betapa beratnya karena sebagai seorang master student yang hanya setahun, kami benar-benar harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena dalam satu tahun kami harus menyelasaikan thesis, research, kuliah, essays writing task dan exam sekaligus. Sangat melelahkan dan tanpa jeda, apalagi lecture disini sangat menuntut kita untuk berfikir kritis. Unlimited access untuk journal, reliable library membuat seakan-akan no excuse kalau kita membaca hanya 30 journal untuk essay 2000 words. Seperti itulah sedikit gambaran kuliah di UK….


Masih banyak kisah international students yang lain, yang tidak kalah dramatis dengan masalah yang berbeda-beda pula tentunya. Yang terpenting aku selalu berdoa semoga Allah SWT memberikan kami kemudahan dalam menyelesaikan study kami, karena sejatinya kami juga sedang berjihad dalam bentuk belajar…Semoga apa-apa yang kami pelajari bisa bermanfaat untuk umat banyak nantinya…
Students Trip  to Cambridge for International Students

Friday, 7 June 2013

Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR) Spring Gathering 2013

 Bismillahirahmanirrahim..

In The Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful




Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) gathering adalah acara untuk semua muslim di UK, seperti London, Birmingham, Nottingham, Loughborough, Manchester, Leeds, Sheffield, Newcastle, Glasgow, Aberdeen, Bristol, Southampton, dan kota-kota lainnya. Mereka berasal dari beragam latar belakang yang mencakup kalangan mahasiswa/pelajar, pekerja, maupun warga Indonesia yang menikah dengan warga negara UK. Acara KIBAR gathering ini biasanya diikuti oleh ratusan peserta baik secara individu maupun keluarga yang datang dari berbagai penjuru kota di UK serta diisi oleh berbagai pembicara baik dari Indonesia maupun dari Inggris. Terbayangkan betapa serunya acara KIBAR gathering ini bertemu saudara sesame muslim dari Indonesia yang berkumpul dalam satu tempat pasti sangat menyenangkan.

Acara KIBAR kali ini diadakan di Aberdeen, Scotland pada tanggal 25-26 May 2013. Sempat ragu untuk mengikuti acara KIBAR ini mengingat betapa jauhnya jarak Aberdeen-London hampir sekitar 13 jam perjalanan kalau dari tempatku dengan menggunakan Coach (Bus). Sebenernya akan bisa lebih cepat 2 sampai 3 jam jika menggunakan train tapi yang pasti harga ticketnya juga berpuluh kali lipat dibandingkan ticket bus. Ditambah lagi bulan May itu aku sedang sibuk menghadapi exam. Tapi setelah kupertimbangkan aku memilih menyiapkan examku lebih awal agar aku bisa mengikuti KIBAR gathering ini. Apalagi master degree yang sedang kujalani ini hanya setahun tentunya (insya Allah) tahun depan aku sudah kembali ke Indonesia dan aku tidak akan pernah merasakan serunya acara KIBAR gathering ini.

Aku berangkat  bersama dengan seorang temanku mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di universitas yang sama denganku dari Chatham–Kent sekitar  pukul 19.00, kami menuju Chatham train station dengan menggunakan coach. Sampai di train station suasana sudah cukup sepi maklum hari sudah menjelang malam meski masih cerah tapi pasca pembunuhan yang baru beberapa hari yang lalu terjadi di London yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap tentara British yang dikenal sebagai tragedi Woolwich membuat kami para muslim di UK ini menjadi harus ekstra waspada. Karena setelah kejadian itu banyak muslim yang mulai merasakan “rasis” dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab (kita lanjut ceritanya nanti yah di note yang beda).

Perjalanan menggunakan train dari Chatham station menuju Victoria Station ditempuh sekitar 47 menit. Sampai Victoria Station kami menuju Victoria coach station. Coach yang kami tumpangi akan berangkat sekitar pukul 22.30. Saat kami tiba waktu menunjukkan pukul 21.00 jadi kami masih punya waktu satu jam lebih untuk menunggu dan mempersiapkan segala sesuatunya, maklum perjalanan  cukup jauh. Ternyata saat menunggu kami bertemu dengan warga Indonesia lain yang sama-sama juga akan berangkat KIBAR Gathering di Aberdeen. Seneng deh bertemu orang-orang baru ada mba Ida, mba Naniek dan anaknya, Kirana, mba Ita yang seorang wartawan Antara-London, mba Rini dan suaminya yang bekerja di London dll.

Coach yang kami tumpangi namanya National  Express.  Coachnya cukup nyaman dengan heater yang selalu on dan toilet yang bersih dan nyaman. Maklum meski sudah masuk summer tetep aja Inggris selalu dingin. Akhirnya tepat pukul 22.30 Coach yang kami tumpangi berangkat. Kupandangi pemandangan  malam diluar sana sambil melihat cantiknya London di waktu malam dan sesekali merefleksi betapa banyak anugerah yang sudah diberikan Allah untukku saat ini. Ini adalah kali pertama aku naik coach  untuk perjalanan jauh selama aku di Inggris. Hal yang paling aku suka dari Inggris itu adalah disiplin dalam segala hal, mereka sangat memperhatikan betul hal berkaitan dengan waktu seperti ketika coach berhenti untuk istirahat, Passenger hanya diperbolehkan turun 30 menit, tidak boleh membawa hot drink, chips, wajib memakai seatbelt, dan benar tepat 30 menit kemudian coach jalan. Lain waktu ketika kami punya waktu istirahat selama 5 menit setelah 5 menit coach langsung jalan. Hehehe seru yah istirahat cuma 5 menit dan semua penumpang dengan sendirinya sadar untuk segera kembali ketempat duduk setelah 5 menit istirahat. Paginya sekitar pukul 08.00 kami sudah sampai di Glasgow dan semakin banyak bertemu dengan keluarga muslim, kebanyakan mahasiswa PhD yang membawa keluarga, seru deh baru sadar Indonesia punya banyak stock manusia cerdas yang siap membangun bangsa kedepannya nanti dan ternyata setelah aku tiba di Aberdeen semakin aku sadar betapa banyaknya orang Indonesia disini.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 ketika kami sampai di Aberdeen Guild street bus station-Scotland. Senang dan bahagia sekali rasanya begitu menginjakan kaki setelah 12 jam perjalanan yang melelahkan dengan istirahat yang hanya beberapa menit tapi  tidak mengurangi semangat kami. Mungkin jaraknya seperti Jakarta-Surabaya tanpa macet. hehehe… Aberdeen adalah sebuah kota kecil dengan total penduduk sekitar 5 juta orang. Scotland kaya akan hasil alam berupa oil dan gas. Kotanya bersih dan Indah, Subhanallah two thumbs up deh…


Figure 1. Aberdeen City (Granite City)


 Figure 2. Aberdeen City Map
 Setelah turun dari Coach bersama-sama kami menuju Feryhill community centre tempat acara KIBAR gathering itu dilaksanakan. Hanya sekitar 15 menit perjalanan dari Coach station ke community centre. Sampai disana kami sudah disambut dengan panitia yang sudah ramai sekali, dan acara nampaknya sudah mau dimulai. Acara dibuka dengan perkenalan oleh masing-masing peserta tapi hanya ikhwannya saja. Saat perkenalan itu baru aku tahu ternyata sebagian besar yang hadir adalah student yang sedang mengambil PhD, master, barchelor ataupun orang Indonesia yang bekerja disini. Yang unik ada beberapa Engineer yang dulunya bekerja di IPTN namun semenjak IPTN bangkrut mereka pindah bekerja di Airbus. Sayang yah banyak orang pintar di Indonesia tapi mereka lebih memilih bekerja di luar karena satu dan lain hal.

Tema besar acara KIBAR adalah Mengokohkan Iman menbar Cahaya Islam dengan pemateri  Yusuf Chamber.  Beliau adalah salah satu pendiri iERA (http://www.iera.org.uk). Organisasi ini memiliki kegiatan dakwah bagi non-muslim, muslim yang baru masuk islam, debat interfaith dan dakwah training dan Brother Hilal. Dari kedua pembicara utama tersebut, diharapkan umat muslim Indonesia di UK akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bagaimana caranya mengokohkan keimanan di tengah-tengah tantangan hidup di negeri barat dan kemudian menjadi duta dalam menebarkan cahaya Islam karena iman dan Islam adalah nikmat Allah yang tak terhingga nilainya yang akan menyelamatkan kita dari api neraka dan kita wajib menjaganya dan menyebarkannya.

Tidak hanya muslim asal Indonesia saja yang datang saat itu. Pasangan mixed couple seperti misalnya mba Ester yang suaminya British pun turut hadir di acara itu dan beberapa pasangan mixed couple juga hadir di KIBAR gathering. Acara berakhir sekitar pukul 20.30 kemudian kami menuju Travelodge (sebuah penginapan seperti hotel) tempat kami menginap dan beristirahat. Aku sangat bersemangat sekali dan tak sabar menunggu hari esok karena besok kami akan melakukan Aberdeen City tour untuk melihat cantiknya Aberdeen yang dikenal dengan sebutan Granite city karena semua bangunannya rata-rata berwarna abu-abu ( Unik yah ^v^).

Keesokan harinya sekitar pukul 07.15 aku dan mba Aini teman sekamarku sudah siap di lobby Travelodge. Kami sudah janjian dengan Mba Tety dan suaminya untuk bersama-sama berangkat menuju Jamea Mosque Islamic Centre. Tempat berkumpul kami sebelum melakukan city tour. Sampai di lobby ternyata mba Tety dan suaminya sudah tidak ada, kami sempat panic karena lupa meminta nomor mba Tety dan tidak tahu bagaimana caranya menuju Islamic centre. Akhirnya setelah hampir 15 menit berputar-putar mencari jalan ke Islamic centre kami bertemu dengan kendaraan yang memang khusus mengantar jemput peserta menuju Islamic centre. Allhamdulillah ternyata jarak Islamic centre itu dekat sekali dengan Travelodge tempat kami menginap. Hehehe…


Wah ternyata Islamic centre ini adalah sebuah gereja yang disulap jadi masjid karena jumlah muslim yang cukup banyak setiap shalat jumat di Aberdeen. Ini menunjukkan perkembangan islam yang pesat apalagi mereka kan cuma pakai gereja seminggu sekali. Subhanallah yah.. 


Figure 3. Ini gerejanya yang disulap jadi masjid

oh iyah saat Aberdeen city tour ini kita ditemani oleh seorang guide yang cukup berpengalaman menjelaskan tentang seluk beluk kota Aberdeen ini. Kami diperlihatkan bangun gereja tertua di Aberdeen, city centre, taman, museum, dan yang paling berkesan saat sang guide menunjukan gereja yang berubah fungsi menjadi bar karena ditinggalkan jamaahnya. Jangan sampai ada masjid yang ditinggalkan jamaahnya deh (sedih banget dengernya…) tapi disisi lain ini memperlihatkan menurunnya jumlah umat Christian disini… (Wallahualam bishawab…)… Setelah puas city tour dan mengambil banyak gambar bangunan Aberdeen yang sangat megah dan indah akhirnya perjalanan kami terhenti di Pantai sebagai final destinantion… Disana kami bermain futsal (bwt bapak-bapak aja sebenernya), anak-anak bermain pasir, dan ibu-ibu sibuk berfoto…;P


 Figure 4. Di depan sebuah Universitas di Aberdeen
 (megah banget yah sayang aku lupa namanya..:P)


 Figure 5. Salah satu kantor pos di Aberdeen (Gede beuttt....^u^)


Figure 6. Berfoto bersama dengan kelompokku di Aberdeen City Tour
Figure 7. Beautiful Beach in Aberdeen

Figure 8. Yeah We're flying without wings....

Figure 9. Aberdeen Museum
Figure 10. Monkey House (kenapa yah dinamain monkey house?)
Figure 11. Gereja tertua di Aberdeen

Setelah itu tepat pukul 13.00 kami kembali ke Feryhill community centre tempat awal khibar gathering diadakan. Disana sudah menanti bazar berbagai macam kuliner khas Indonesia. Wahhh tak sabar rasanya untuk  membeli semua makanan itu. Maklum selama 7 bulan semenjak aku di Inggris kangen sekali rasanya dengan makanan Indonesia. Saat penuh semangat dan rasa lapar mulai terasa ternyata uang yang baru saja kuambil dari ATM hilang. Huahhh sedih sekali rasanya, entahlah dimana hilangnya uang itu…Akhirnya aku berusaha mengikhlaskan dan membatalkan keinginanku untuk membeli dan memborong semua makanan di bazar itu, (hiks sedihnyaaa…T_T ) akhirnya aku meminjam uang temanku sesama student yang juga membawa uang yang sama terbatasnya denganku.  Ingin cerita ke yang lain malu rasanya, aku hanya bercerita ke seorang ummahat (tanpa bermaksud untuk meminta dikasihani low..) dan tiba secara mengejutkan saat acara selesai sang ummahat menganti uang dengan jumlah yang sama dengan uangku yang hilang. Wah senangnya semoga Allah membalas beliau dan keluarga dengan kesehatan dan rizki yang berlipat ganda…(Lain kali lebih hati-hati yah mba Rika..:P)

Singkat cerita sebelum acara ditutup kami bersama-sama menonton kids theatre dan berfoto bersama. Kemudian kami kembali ke Aberdeen Coach station, coach berangkat jam 19.00 dan keesokan harinya pukul 07.00 kami sampai di London. Kemudian kami naik train ke Victoria station untuk kembali ke Chatham kemudian dari Chatham Station naik bus dan sampailah di rent houseku tercinta…..

Tidak terbayangkan betapa menyenangkan dan bermaknanya semua perjalanan, pengalaman yang kudapat selama menuju dan saat acara di Aberdeen. Allhamdulillah di tempat yang ribuan kilometer jaraknya dari Indonesia aku bisa bertemu dengan saudara sesama muslim. Semoga Allah mengizinkan kita bertemu lagi dalam tempat dan keadaan yang lebih baik… insya Allah..
Figure 12. Foto bersama setelah penutupan acara
(ikhwan-akhwat foto terpisah)


Best Regards,


Rika reviza rachmawati



Ibu yang Sekuat Seribu Laki-laki



Bismillahirahmanirrahim,

In the Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.

Cerita luar biasa ini kudapat dari group daffodil muslimah. Sebuah group untuk muslimah yang tinggal atau pernah berdomisili di UK. Saya sangat suka sekali dengan isi ceritanya. Meski aku belum menjadi seorang ibu, tapi sejatinya persiapan itu harus dilakukan semenjak dini untuk menjadi ibu yang begitu hebat yang kekuatannya setara dengan seribu lelaki agar bisa menciptakan generasi-generasi Rabanni yang luar biasa. Insya Allah...^v^

Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar dan berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di kelompok, sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, ia bertanya pada anak yang baru masuk itu, “Adakah surat yang kamu hapal dalam Al-Qur’an?” “Ya”, jawab anak itu singkat.

“Kalau begitu, coba hafalkan salah satu surat dari Juz ‘Amma?” pinta sang guru. Anak itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih dan benar. Merasa anak tersebut punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, “Apakah kamu juga hapal surat Tabaraka (Al-Mulk)?” “Ya”, jawabnya lagi, dan segera membacanya. Baik dan lancar. Guru itu pun terkagum-kagum dengan kemampuan hapalan si anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.

Dia pun coba bertanya lebih jauh, “Kamu hafal surat An-Nahl?” Ternyata anak itu pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu dia pun mengujinya dengan surat-surat yang lebih panjang, “Apa kamu hapal surat Al-Baqarah?” anak itu kembali mengiyakan dan langsung membacanya tanpa sedikit pun kesalahan. Semakin pennasaran, dan ia ingin menutup rasa penasaran itu dengan pertanyaan terakhir, “Anakku, apakah kamu hapal Al-Qur’an?” “Ya”, tuturnya polos.

Mendengar jawaban itu, seketika ia mengucap, “Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah.“

Di saat menjelang maghrib sebelum guru tersebut membubarkan anak-anak mengajinya, secara khusus ia berpesan kepada murid barunya, “Besok, kalau kamu datang kembali ke masjid ini, tolong ajak juga orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.”

Esok harinya, anak itu kembali datang ke masjid. Kali ini ia bersama ayahnya, seperti pesan si guru ngaji kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, sang guru bertambah penasaran karena sosoknya yang sama sekali tidak memberi kesan alim, terhormat dan pandai. Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa keheranannya terlebih dahulu, “Aku tahu, mungkin Anda tidak percaya bahwa aku ini adalah ayah anak ini. Tapi rasa heran Anda akan aku jawab, bahwa di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki. Aku katakan pada Anda bahwa di rumah, aku masih punya tiga anak lagi yang semuanya hapal Al-Qur’an. Anak perempuanku yang terkecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah hapal juz ‘Amma.”

“Bagaimana ibunya bisa melakukan itu?” tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah mulai bisa bicara, ia mulai pula membimbingnya menghapal Al-Qur’an, dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti, dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan pada mereka, “Siapa yang hapal lebih dulu, dialah yang menentukan menu makan malam kita malam ini,” “Siapa yang paling cepat mengulangi hapalannya, dialah yang berhak memilih kemana kita berlibur pekan depan,” dan “Siapa yang paling dulu mengkhatamkan hapalannya, dialah yang menentukan kemana kita jalan-jalan pada liburan nanti.” Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga terciptalah semangat bersaing dan berlomba di antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hapalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji istrinya.

Sebuah keluarga biasa, yang melahirkan anak-anak yang luar biasa, karena energi seorang ibu yang luar biasa.

Setiap kita, dan semua orang tua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang shalih, cerdas dan membanggakan. Tetapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai dan menghapal Al-Qur’an. Butuh perjuangan. Perlu kekuatan. Mesti tekun dan bersabar melawan rasa letih dan susah, tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, “Di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki.”

Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat dan perkasa. Sebab membuat permulaan yang baik untuk kehidupan anak-anak, sekali lagi tidak mudah. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu saja modal pertamanya adalah keshalihan diri. Tidak ada yang lain.

Sumber : www.hasanalbanna.com

By Sultan Hadi


Best regards,


Rika reviza rachmawati

Thursday, 6 June 2013

Sahabat dan nasihat kehidupan untukku

Bismillahirahmanirahim...

In the Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.



Kisah ini diambil dari pengalaman seorang temanku yang sangat luar biasa. Beliau adalah seorang ummahat shalehah yang memiliki 3 orang anak yang sangat luar biasa. Anak-anak yang masih sangat muda tapi sangat dewasa dan cerdas. Namanya ummi aku hanya sempat bertemu sekali dengan beliau saat ada acara pengajian bulanan di rumahnya. Saat itu pertemuan pertamaku terjadi sekitar bulan Desember 2012 bulan keduaku di Inggris. Aku baru datang ke Inggris sekitar bulan November 2012. Aku belum terlalu mengenal beliau tapi malam itu setelah pengajian aku memutuskan menginap di rumah ummi karena sudah terlalu malam untuk kembali ke rent houseku.

Ummi dan keluarganya sangat baik kepadaku. Keluarga muslim yang sangat menyenangkan. Suaminya bukan berasal dari Indonesia tapi insya Allah shaleh dan sangat baik. Pagi itu saat autumn udara sangat dingin kami sarapan pagi bersama. Ummi bercerita sedikit tentang penyakit  yang dideritanya  beliau menderita penyakit tumor ganas di payudaranya. Rasa sakit ini diawali ketika ummi mengandung anaknya yang ketiga.  Demi menjaga janin dalam kandungannya, ummi memutuskan menunda semua terapi agar si jabang bayi tak terkena berbagai efek buruk terapi kanker. Padahal menurut dokter kehamilan  meningkatkan hormon estrogen yang memacu pertumbuhan kanker payudara semakin ganas. Satu hal yang sangat luar biasa yang kupelajari dari ummi saat itu betap besar dan berat pengorbanan ummi untuk anaknya...Subhanallah..

Ummi akhirnya menjalani kemoterapi hormonal yang sudah dikonsumsi selama 6 tahun terakhir. Akhirnya setelah sekian lama, kemoterapi  ini akan segera dihentikan, dan ahli onkologi akan men "discharge" ummi karena sudah "disease-free" selama 6 tahun. Di Inggris ini, semua pasien mendapat follow up ketat pasca terapi, dan dia taat akan semua regimen terapi yang diberikan oleh para dokter. Terapi kanker di Inggris adalah salah satu yang paling maju di dunia, Cancer Research UK sangat terkenal dalam penelitian dan penemuan terapi-terapi baru untuk kanker.


Ternyata, ilmu manusia itu tak ada setitik pun dibandingkan ilmu sang Pencipta yang bahkan lebih luas dari samudera. Para dokter menemukan pertumbuhan sel-sel kanker itu lagi di hatinya. Serial kemoterapi pun dimulai lagi dengan segala efek samping tak mengenakkannya. Namun demikian, sel-sel kanker itu tetap tinggal, bahkan semakin meluaskan penjelajahannya ke tulang-tulang dada dan iganya. Radioterapi pun dijalaninya. Hingga sudah semua modalitas terapi dilakoninya, tampaknya Sang Penguasa Alam Raya ingin mengajarkan padaku bahwa kuasa dan keputusan Nya adalah hukum dan hasil yang pasti berlaku. Dunia kedokteran yang dengan bangga menyatakan "disease-free" itu rupanya hanya arogansi manusia belaka.

Menjenguknya beberapa hari lalu di rumah sakit, dengan senyum mengembang dan mata kuning (karena jaundice) ummi menceritakan hasil CT scan yang baru diberitakan oleh para dokternya. 
"Alhamdulillaah, kata dokter, kanker sudah menyebar kemana-mana", begitu katanya... "Alhamdulillaah, nyeri hebat di seluruh badan sampai kalo tak tahan lagi, terpaksa morfin ini diminum... Alhamdulillaah masih berasa nyeri, kalo ga berasa, tentu sedang koma...", begitu katanya ringan sambil tersenyum. "Alhamdulillaah...", begitu katanya berulang-ulang. "Alhamdulillaah, mudah-mudahan ikhlas... Allah yang akan mengurus anak-anak nanti insha Allah...", ujarnya tetap tersenyum.

"Dokter sudah bilang, 'we are sorry that there is nothing we can do, you can go home if you'd like to'," sambungnya. "Saya ingin pulang saja supaya bisa bersama anak-anak. Mohon dimaafkan segala kesalahan yaa...", begitu katanya, masih dengan nada ringan.


Saat itu aku bersama ummahat yang lain menjenguk ummi di rumah sakit, kulihat wajahnya begitu tegar dan telihat tabah. Jujur saja di usiaku saat ini aku belum pernah bertemu dengan pasien kanker dan aku merasa kagum luar biasa dari ummi apalagi beliau bercerita masih bisa shalat 5 waktu dengan posisi "normal" seperti biasa. Beliau melanjutkan semenjak keadaan tubuhnya yang semakin drop suaminyalah yang mengambil alih peran rumah tangga. Mulai dari bangun jam 2 malam kemudian bekerja sampai sekitar pukul 8 pagi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, mengantarkan sekolah anak-anak. Sekembalinya dari mengantarkan sekolah, abi (panggilan untuk suaminya ummi) menyiapkan segala keperluan ummi, memandikan, menyuapi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, sampai kemudian menjemput anaknya kembali. Sambil tersenyum ummi berkata Abi itu orangnya apik kalau kerja pasti bersih dan rapi. Tidak terbayang betapa berat peran yang harus Abi jalani mengurus 3 orang anak, ummi yang sedang menderita penyakit berat dan tetap bekerja agar bisa memutar roda ekonomi keluarga. 

Saat itu aku  sedang menemani ummi menunggu Abi menjemput di lobi rumah sakit. Dari kejauhan terlihat mobil Abi sudah datang kemudian ummi segera mengakhiri ceritanya dengan mengatakan semoga Allah memberikan kekuatan untuk Abi dan anak-anak ummi, tetap menjadi shaleh dan shalehah dan tidak terpengaruh budaya barat. Cerita ini diceritakan ummi saat aku dan ummi akan pulang dari rumah sakit setelah dokter memutuskan ummi boleh pulang karena dokter sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Udara cukup dingin saat itu angin bertiup sangat kencang dan diiringi hujan yang cukup deras. Abi mendorong kursi roda ummi ke mobil dan membantu menaikkan ummi ke mobil. Aku berusaha membantu membawa barang-barang ummi dari rumah sakit. Sebelum menjalankan mobil Abi menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk ketiga anak-anaknya kemudian mobil berjalan.

Baru sepuluh menit perjalanan, ummi teringat "painkiller" untuk meringankan rasa sakit ummi belum diambil, mobil diputar balik kembali ke arah rumah sakit. Hujan mengucur sangat deras membuatku agak sedikit gelisah sebenarnya tapi anak-anak ummi tetap ceria dan berusaha mengajakku bercanda. Aku tahu ummi dan Abi juga terlihat sangat gelisah karena obat itu sangat penting untuk ummi. Sampai rumah sakit dengan menerobos hujan deras Abi turun dari mobil demi mengambil "painkiller" untuk ummi. Dalam hati aku mengagumi Abi.. Subhanallah betapa berat dan besar perjuangan Abi untuk ummi, Semoga Allah memberinya kekuatan...Singkat cerita hari itu adalah hari terakhirku bertemu ummi karena rupanya Allah punya rencana yang lebih indah untuk ummi..

Tanggal 11 May aku menerima berita mengejutkan  yang mengabarkan ummi meninggal. Entah kenapa rasanya sangat kehilangan sekali walaupun aku baru bertemu beliau dua kali. Tapi di sisi lain ada hikmah yag bisa diambil ummi tidak lagi merasakan sakit  yang dideritanya. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosa beliau, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya bidadari surga dan memberikan kesabaran, kekuatan untuk Abi dan anak-anaknya. Aamiin..

Kutipan dari seorang sahabat untuk ummi:

"Sahabatku, sungguh malu diriku berdiri di hadapanmu...
Betapa pelajaran yang kau berikan untukku sudah mencabik-cabik ketinggian hatiku atas majunya dunia kedpkteran manusia. Kisahmu mengajarkan, ilmu manusia jauh lebih sedikit dari sekedar terbatas...

Sahabatku, sungguh aku takjub padamu...
Hanya orang-orang terpilih seperti dirimu yang mendapat ujian begitu besar dari Sang Pencipta, ikhlas menerimanya, bahkan memanfaatkannya sebagai penggugur dosa...

Sahabatku, sungguh aku iri terhadapmu...
Sekarang kau menyibukkan diri untuk kehidupan akhiratmu, seakan detik berikutnya nyawamu sudah berpisah dari raga... Aku yang selalu merasa sehat, merasa malaikat maut pasti akan enggan mencabut nyawaku dalam waktu dekat, sibuk dengan segala urusan duniaku. Padahal bisa jadi takdir Pencipta tertulis sebaliknya...

Sahabatku, sungguh aku kagum padamu, suamimu, dan anak-anakmu...
Allah perlihatkan bagaimana hasil pendidikan ilahiyah Nya terhadap anak-anakmu, yang begitu dewasa merawat ibunya, di usia mereka yang masih dalam hitungan jari...

Terima kasih... terima kasih atas semua pelajaran yang kau berikan padaku selama ini... Tak mungkin bisa kubalas segala kebaikanmu... Hanya seuntai doa, yang mudah-mudahan Allah dengar, dariku yang kualitas penghambaannya hanya seujung kuku dirimu..."



Ummi semoga Allah memberikanmu tempat terindah disisiNya...Aamiin..


*Disadur dari catatan seorang sahabat dengan sedikit perubahan...


Best regards,


Rika reviza rachmawati






Sunday, 31 March 2013

Education Systems in The United Kingdom




In the name of Allah The Most Gracious and The Mot Merciful

Allhamdulillah sudah hampir 5 bulan aku survived di England merasakan pahit, manis, susah, senang, dan beratnya kuliah master di Inggris. Negeri terbesar penerima International students setelah America dan peringkat 6 education systems terbaik dunia setelah Finlandia, South Korea, Jepang dan Hongkong (satu negara lagi aku lupa ;p).  Justru peringkat Middle class ditempati oleh America, Germany, Canada, and France. Sedihnya peringkat terakhir justru ditempati oleh Meksico, Brazil dan Indonesia menurut laporan dari BBC news. Maka betapa beruntungnya aku bisa merasakan kualitas pendidikan terbaik dunia, dan seiring berjalannya waktu aku baru tahu kenapa England bisa jadi yang terbaik karena memang iklim perkuliahan disini menuntut kita untuk selalu berkompetisi. Berkompetisi secara sehat, menjadi yang terbaik dan memaksimalkan segala potensi yang kita miliki.

Anyway, kita mulai dari sistem perkuliahan disini berlaku yang namanya my lecture is my partner. Hierarki pendidikan yang biasa terjadi di Indonesia, kedudukan dosen yang biasanya selalu lebih tinggi tidak berlaku disini. Dosen adalah sharing partner untuk mahasiswa begitu pula dosen tidak akan pernah memandang rendah kemampuan setiap mahasiswanya. Rasa respect each others yang sangat tinggi terlebih karena kita international students membuat kuliah jadi terasa menyenangkan. Sekalipun kita salah dalam mengungkapkan pendapat kita terhadap suatu masalah lecture tidak akan pernah mengatakan itu salah. Tapi berusaha membenarkan tanpa membuat kita merasa rendah diri. On the other hand, kalau kita bisa memberikan pertanyan yang sangat bagus menurut lecture atau menjawab pertanyaan lecture dengan jawaban yang memuaskan mereka tidak akan segan memuji di depan satu kelas. Well down!!

My assignment, kebanyakan tugas yang diberikan dosen adalah essays yang semuanya mengharuskan kita untuk critical thinking yang mau enggak mau membuat kita membaca minimal 30 journal atau 10 text books hanya untuk membuat 2500-3000 words, setara dengan 10 pages. Sedikit yah kelihatannya? Tapi jangan salah disini yang namanya copy-paste itu termasuk criminal offence. Even though kita tambahkan reference di ujung paragraf yang kita buat. Mereka menuntut kita untuk pharaphrase. Pharaphrasing adalah proses mengambil ide orang lain tapi kita rubah dengan kata-kata sendiri yang menuntut pemahaman kita terhadap suatu permasalahan tapi tetap dengan menambahkan reference di awal atau di akhir paragraf. Pharaphase menuntut pemahaman, penguasaan vocabulary yang luas, dan skill pastinya. Kebayang kan kalau setiap sentence harus kita pharaphase betapa kerja keras banget. Pokoknya kalau udah ada tugas  essay Library itu udah kaya rumah kedua mulai dari jam 9am-6pm. Itupun masih lanjut lagi di kosan wide awake sambil ditemani 5 cups Robusta coffee (supaya kuat bergadang). Sebenernya Library masih buka sampai midnight tapi berhubung kosanku agak jauh sekitar 20 menit darikampus jadi aku gak berani pulang terlalu malam.

Saat-saat mendekati submit deadline adalah saat yang kadang paling bikin frustasi. Telat 1 menit submit online bisa panjang urusannya. Belum lagi resiko nilai dikurangin 10% (Gak usah dikurangin aja belum tentu nilainya bagus apalagi pake dikurangin ;P). Submit online dengan mengunakan Turnitin, sejenis software canggih yang bisa mendeteksi kalau kita cuma copy-paste dari journal even yang kita copy-paste cuma satu paragraf dia bisa langsung detect  karena di dalam mesin itu udah tersimpan jutaan journal dari seluruh dunia makannya dia bisa langsung tahu. Lebih dari 25% similarity  it means failed, oiyah kalau dosen bilang maksimal 2500 words kita bikin 2501 kita bisa failed karena lebih dari minimum yang di tugaskan begitu pula sebaliknya. Complicated banget yah... puffhh

Next Supervisor thesisku yang baik hati yang bernama Dr. Tim Acott. Waktu pertama kali aku masuk ke ruangan beliau untuk berdiskusi tentang thesis ku, tiba-tiba beliau mengucapkan “Selamat Datang”. Surprisingly, He can speak Bahasa, even just Selamat datang. Ternyata istri beliau berasal dari Surabaya, istrinya seorang guru bahasa Inggris sebelum bertemu dan kemudian mereka memutuskan menikah. Allhamdulillah, beliau sangat baik dan pengertian. Kami mengobrol hangat mulai dari soal cuaca, aktivitas kami, makanan halal untukku pastinya, dan tentu saja thesisku. Sebelum pertemuan pertama itu aku mencoba membuat analysis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) untuk topic thesis ku. Beliau sangat menyukai analysis yang ku ajukan dan berkata ini langkah awal yang sangat bagus untuk memulai project thesisku. Allhamdulillah, kemudian setelah kami berdiskusi beliau meminta progress thesisku tgl 12 April 2013 nanti. Okee need extra hard work, read a lot of books, and critical thinking pastinya...

Hmm oke kita lanjut nanti yah cerita seru tentang education systems in The UK masih banyak hal menarik lainnya yang sebenernya bisa di share tapi berhubung banyak essays yang menanti untuk dikerjakan jadi tunggu part 2 nya aja yah....

Best Regards,


Rika reviza rachmawati




Thursday, 21 February 2013

Being international students

In the name of Allah the most gracious and the most merciful,,,,,


Sebuah karunia luar biasa dari Allah SWT yang harus aku syukuri, menjadi international students di sebuah universitas di Inggris, setiap saat ketika akau di kampus, jalan raya, station, supermarket or anywhere aku bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda bangsa, warna kulit, agama, ras, bentuk tubuh (perbedaan tinggi badan yang jauh) dan bahasa pastinya. Aku bersyukur sekali bisa tinggal di Inggris dimana orang-orang yang ada disini pasti menggunakan bahasa Inggris, at least aku masih bisa berkomunikasi dengan siapapun tanpa menemui hambatan yang berarti. Sempat denger cerita dari teman yang sedang study di Japan, beliau mengambil international class tapi tetep aja dengan masyarakat sekitar beliau harus berbahasa Japan, seru pastinya tapi akhirnya sering terjadi misperception, secara temanku tidak terlalu fluent berbahasa Japan. hehehe..

Di kampusku University of Greenwich aku punya temen dari berbagai negara mulai dari Spain, Turkey, Nigeria, Uganda, India, Pakistan, Libya, Botswana, Irak, Iran, China, Vietnam, Thailand, etc...menyenangkan sekali berteman dengan teman-teman berbeda negara itu kita biasanya saling sharing kondisi negara kita masing-masing, tentang exchange rate mata uang negara kita yang nilainya hampir pasti jauh dibandingkan dengan pounsterling, kebiasaan unik setiap negara, keindahan alam, our capital city, keluarga, bahkan sampai hal yang paling mendasar sekalipun yaitu tentang agama. Di sini hanya ada dua orang mahasiswa master dan satu orang mahasiswa PhD yang berasal dari Indonesia, jumlah yang sangat sedikit sekali dibandingkan dengan negara lain,  jadi mereka jarang sekali bertemu mahasiswa Indonesia.

In my course Natural Resourches Institute, yang muslimah hanya aku seorang, dan aku satu-satunya wanita yang mengenakan hijab, kalau laki-lakinya ada beberapa orang yang muslim, biasanya dari Nigeria, India, dan Irak. Aku memang terlihat paling beda diantara teman-teman yang lain, tapi luar biasanya disini sebagai international student rasa saling menghargai diantara kita itu tinggi banget. Sebenernya  gak hanya di kampus aku dihargai tapi selama aku di Inggris allhamdulillah aku tidak pernah merasakan diskriminasi sebgai seorang muslimah. Anugerah luar biasa yang patut aku syukuri...

Pernah suatu hari saat kuliah aku lupa mematikan prayer alarm dari handphoneku, jadi adzan berbunyi dari handphone saat lectureku sedang menjelaskan, setelah kuliah aku minta maaf ke teman-temanku yang merasa terganggu dengan adzanku, tapi mereka dengan tersenyum berkata, gpp itu indah sekali, kami senang mendengarnya. heheh... Allhamdulillah...^v^

Kadang saat kami berkomunikasi satu sama lain walaupun menggunakan bahasa Inggris tapi masih saja sering terjadi misperception, biasanya karena pengaruh aksen yang berbeda dari tiap negara, apalagi kalau mendengar orang asia seperti Vietnam atau Thailand berbicara agak sulit untukqu untuk mencernanya, dibanding aku berbicara dengan British asli atau teman-temanku dr Europe atau African countries,,tapi justru disitu serunya kami jadi saling belajar satu sama lain, mencoba mengerti, dan memahami bahkan kadang saling tertawa mendengar aksen bahasa yang agak aneh ditelinga kami..


Hal lain yang unik adalah waktu aku berkenalan dengan student pria yang berasal dari Nigeria, mereka mempunyai kebiasaan memberikan pelukan persahabatan meskipun itu berbeda gender. Aku dengan tegas mengatakan sebagai seorang muslimah aku tidak melakukan itu kepada lawan jenisku. Temanku ini menghargaiku dan dia memeinta maaf karena dia menganggap ini hanya sekadar tradisi perkenalan. lalu kamipun tertawa bersama kami memang berbeda dalam segala hal, namun tetap bisa menjadi teman yang baik.

Di kampus aku join student union  yaitu islamic organization namanya Medway ISOC. Medway itu adalah nama daerah tempatku tinggal dan tempat kampusku berada sekarang, sedangkan ISOC abbreviation dari Islamic Organization Community. Kenapa aku join dengan organisasi islam aku memang ingin sekali mengenal islam dari berbagai negara dalam satu waktu...Subhanallah banget rasanya aku pertama kali datang ke acara sisters circle, kalau di Indonesia disbut dengan keputrian. Materinya waktu itu tentang Hijab, dan yang kemarin materinya tentang dakwah. Kebanyakan teman-temanku di organisasi ini berasal dari Pakistan, Libya, Bangladesh, Afghanistan, dan beberapa orang dari Nigeria. Susah sekali menemukan British asli yang muslim di tempatku...mungkin insya Allah suatu hari aku bisa ketemu muslimah British asli, pasti seru... 

Banyak hal yang kami bicarakan saat berkumpul selain belajar islam tentunya aku juga bisa sharing  keadaan muslim di negara masing-masing misalnya seperti di Libya yang baru-baru ini terjadi revolusi bersar-besaran pasca kepemimpinan Moamar Khadfi turun dari kursi kepresidenan, masalah Ahmadiyah yang ternyata tumbuh subur di London, perbedaan Sunni-Syiah bahkan sampai masalah masakan, seru deh secara kami berbeda bangsa jadi banyak sekali perbedaan. Hal yang  biasa  tapi selalu rasanya berbeda ketika mereka dengan tulus mengucapkan Assalamualaikum ketika mereka bertemu denganku atau sekedar menyapa bertanya kabar, dan bersyukur atas nikmat Allah yang kami terima hari ini. Mereka semua berbeda course denganku kebanyakan Bachelor degree, mulai dari medical sciences, pharmacist, business, etc,  aku rasanya seperti membuktikan Al-qur'an  surat  Al-Hujurat ayat  13, Allah menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal...Allhamdulillah..

Banyak sekali hal luar biasa yang kudapat disini setiap moment berinteraksi sebagai international student itu adalah pengalaman baru untukku, aku belajar menghargai orang lebih baik lagi, selalu mengucapkan thank you walaupun untuk hal yang sepele sekalipun, tersenyum tulus sambil mengucapkan May Allah grant you good, atau menyapa salam bila bertemu sesama muslim walaupun beliau itu seorang security yang aku temui di sebuah supermarket tentu rasanya amat sangat berbeda dibanding waktu aku di Indonesia dulu dimana muslim adalah jumlah mayoritas. 

The most important thing  adalah aku sebagai representasi dari kebaikan dan keindahan islam itu sendiri.  Oiyah yang paling membahagiakan adalah saat bertemu saudaraku sesama muslim disini mereka selalu senang ketika tahu darimana aku berasal. Mereka menyadari Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Mereka bilang Indonesia itu negara yang indah menurut berita, orangnya ramah-ramah, dan traditional foodnya enak bgt. Pernah ada temanku seorang akhwat yang berasal dari Pakistan  beliau cerita sewaktu umroh pernah bertemu dan ditolong dengan seorang wanita yang berasal dari Indonesia, semenjak itu beliau selalu berfikir orang Indonesia itu baik.  hehehe antara senang dan miris mendengarnya...

Menjadi international student itu aku seperti menjadi ambasador untuk bangsaku, aku harus membuat pencitraan bahwa Indonesia adalah bangsa yang beretika, disiplin, cerdas, ramah etc. Sebenernya itu bukan kewajiban tapi aku merasa harus melakukan itu semua, aku tidak mau tertinggal dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Aku selalu berusaha yang terbaik disini. Semoga Allah memudahkan segala urusanku, dan mengizinkanku mencapai cita-cita dan mimpi-mimpi besarku. Aaminn...


Bersama teman-temanku dari Turki dan Iran
Best regards,




Rika reviza rachmawati