Friday, 7 June 2013

Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR) Spring Gathering 2013

 Bismillahirahmanirrahim..

In The Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful




Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) gathering adalah acara untuk semua muslim di UK, seperti London, Birmingham, Nottingham, Loughborough, Manchester, Leeds, Sheffield, Newcastle, Glasgow, Aberdeen, Bristol, Southampton, dan kota-kota lainnya. Mereka berasal dari beragam latar belakang yang mencakup kalangan mahasiswa/pelajar, pekerja, maupun warga Indonesia yang menikah dengan warga negara UK. Acara KIBAR gathering ini biasanya diikuti oleh ratusan peserta baik secara individu maupun keluarga yang datang dari berbagai penjuru kota di UK serta diisi oleh berbagai pembicara baik dari Indonesia maupun dari Inggris. Terbayangkan betapa serunya acara KIBAR gathering ini bertemu saudara sesame muslim dari Indonesia yang berkumpul dalam satu tempat pasti sangat menyenangkan.

Acara KIBAR kali ini diadakan di Aberdeen, Scotland pada tanggal 25-26 May 2013. Sempat ragu untuk mengikuti acara KIBAR ini mengingat betapa jauhnya jarak Aberdeen-London hampir sekitar 13 jam perjalanan kalau dari tempatku dengan menggunakan Coach (Bus). Sebenernya akan bisa lebih cepat 2 sampai 3 jam jika menggunakan train tapi yang pasti harga ticketnya juga berpuluh kali lipat dibandingkan ticket bus. Ditambah lagi bulan May itu aku sedang sibuk menghadapi exam. Tapi setelah kupertimbangkan aku memilih menyiapkan examku lebih awal agar aku bisa mengikuti KIBAR gathering ini. Apalagi master degree yang sedang kujalani ini hanya setahun tentunya (insya Allah) tahun depan aku sudah kembali ke Indonesia dan aku tidak akan pernah merasakan serunya acara KIBAR gathering ini.

Aku berangkat  bersama dengan seorang temanku mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di universitas yang sama denganku dari Chatham–Kent sekitar  pukul 19.00, kami menuju Chatham train station dengan menggunakan coach. Sampai di train station suasana sudah cukup sepi maklum hari sudah menjelang malam meski masih cerah tapi pasca pembunuhan yang baru beberapa hari yang lalu terjadi di London yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap tentara British yang dikenal sebagai tragedi Woolwich membuat kami para muslim di UK ini menjadi harus ekstra waspada. Karena setelah kejadian itu banyak muslim yang mulai merasakan “rasis” dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab (kita lanjut ceritanya nanti yah di note yang beda).

Perjalanan menggunakan train dari Chatham station menuju Victoria Station ditempuh sekitar 47 menit. Sampai Victoria Station kami menuju Victoria coach station. Coach yang kami tumpangi akan berangkat sekitar pukul 22.30. Saat kami tiba waktu menunjukkan pukul 21.00 jadi kami masih punya waktu satu jam lebih untuk menunggu dan mempersiapkan segala sesuatunya, maklum perjalanan  cukup jauh. Ternyata saat menunggu kami bertemu dengan warga Indonesia lain yang sama-sama juga akan berangkat KIBAR Gathering di Aberdeen. Seneng deh bertemu orang-orang baru ada mba Ida, mba Naniek dan anaknya, Kirana, mba Ita yang seorang wartawan Antara-London, mba Rini dan suaminya yang bekerja di London dll.

Coach yang kami tumpangi namanya National  Express.  Coachnya cukup nyaman dengan heater yang selalu on dan toilet yang bersih dan nyaman. Maklum meski sudah masuk summer tetep aja Inggris selalu dingin. Akhirnya tepat pukul 22.30 Coach yang kami tumpangi berangkat. Kupandangi pemandangan  malam diluar sana sambil melihat cantiknya London di waktu malam dan sesekali merefleksi betapa banyak anugerah yang sudah diberikan Allah untukku saat ini. Ini adalah kali pertama aku naik coach  untuk perjalanan jauh selama aku di Inggris. Hal yang paling aku suka dari Inggris itu adalah disiplin dalam segala hal, mereka sangat memperhatikan betul hal berkaitan dengan waktu seperti ketika coach berhenti untuk istirahat, Passenger hanya diperbolehkan turun 30 menit, tidak boleh membawa hot drink, chips, wajib memakai seatbelt, dan benar tepat 30 menit kemudian coach jalan. Lain waktu ketika kami punya waktu istirahat selama 5 menit setelah 5 menit coach langsung jalan. Hehehe seru yah istirahat cuma 5 menit dan semua penumpang dengan sendirinya sadar untuk segera kembali ketempat duduk setelah 5 menit istirahat. Paginya sekitar pukul 08.00 kami sudah sampai di Glasgow dan semakin banyak bertemu dengan keluarga muslim, kebanyakan mahasiswa PhD yang membawa keluarga, seru deh baru sadar Indonesia punya banyak stock manusia cerdas yang siap membangun bangsa kedepannya nanti dan ternyata setelah aku tiba di Aberdeen semakin aku sadar betapa banyaknya orang Indonesia disini.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 ketika kami sampai di Aberdeen Guild street bus station-Scotland. Senang dan bahagia sekali rasanya begitu menginjakan kaki setelah 12 jam perjalanan yang melelahkan dengan istirahat yang hanya beberapa menit tapi  tidak mengurangi semangat kami. Mungkin jaraknya seperti Jakarta-Surabaya tanpa macet. hehehe… Aberdeen adalah sebuah kota kecil dengan total penduduk sekitar 5 juta orang. Scotland kaya akan hasil alam berupa oil dan gas. Kotanya bersih dan Indah, Subhanallah two thumbs up deh…


Figure 1. Aberdeen City (Granite City)


 Figure 2. Aberdeen City Map
 Setelah turun dari Coach bersama-sama kami menuju Feryhill community centre tempat acara KIBAR gathering itu dilaksanakan. Hanya sekitar 15 menit perjalanan dari Coach station ke community centre. Sampai disana kami sudah disambut dengan panitia yang sudah ramai sekali, dan acara nampaknya sudah mau dimulai. Acara dibuka dengan perkenalan oleh masing-masing peserta tapi hanya ikhwannya saja. Saat perkenalan itu baru aku tahu ternyata sebagian besar yang hadir adalah student yang sedang mengambil PhD, master, barchelor ataupun orang Indonesia yang bekerja disini. Yang unik ada beberapa Engineer yang dulunya bekerja di IPTN namun semenjak IPTN bangkrut mereka pindah bekerja di Airbus. Sayang yah banyak orang pintar di Indonesia tapi mereka lebih memilih bekerja di luar karena satu dan lain hal.

Tema besar acara KIBAR adalah Mengokohkan Iman menbar Cahaya Islam dengan pemateri  Yusuf Chamber.  Beliau adalah salah satu pendiri iERA (http://www.iera.org.uk). Organisasi ini memiliki kegiatan dakwah bagi non-muslim, muslim yang baru masuk islam, debat interfaith dan dakwah training dan Brother Hilal. Dari kedua pembicara utama tersebut, diharapkan umat muslim Indonesia di UK akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bagaimana caranya mengokohkan keimanan di tengah-tengah tantangan hidup di negeri barat dan kemudian menjadi duta dalam menebarkan cahaya Islam karena iman dan Islam adalah nikmat Allah yang tak terhingga nilainya yang akan menyelamatkan kita dari api neraka dan kita wajib menjaganya dan menyebarkannya.

Tidak hanya muslim asal Indonesia saja yang datang saat itu. Pasangan mixed couple seperti misalnya mba Ester yang suaminya British pun turut hadir di acara itu dan beberapa pasangan mixed couple juga hadir di KIBAR gathering. Acara berakhir sekitar pukul 20.30 kemudian kami menuju Travelodge (sebuah penginapan seperti hotel) tempat kami menginap dan beristirahat. Aku sangat bersemangat sekali dan tak sabar menunggu hari esok karena besok kami akan melakukan Aberdeen City tour untuk melihat cantiknya Aberdeen yang dikenal dengan sebutan Granite city karena semua bangunannya rata-rata berwarna abu-abu ( Unik yah ^v^).

Keesokan harinya sekitar pukul 07.15 aku dan mba Aini teman sekamarku sudah siap di lobby Travelodge. Kami sudah janjian dengan Mba Tety dan suaminya untuk bersama-sama berangkat menuju Jamea Mosque Islamic Centre. Tempat berkumpul kami sebelum melakukan city tour. Sampai di lobby ternyata mba Tety dan suaminya sudah tidak ada, kami sempat panic karena lupa meminta nomor mba Tety dan tidak tahu bagaimana caranya menuju Islamic centre. Akhirnya setelah hampir 15 menit berputar-putar mencari jalan ke Islamic centre kami bertemu dengan kendaraan yang memang khusus mengantar jemput peserta menuju Islamic centre. Allhamdulillah ternyata jarak Islamic centre itu dekat sekali dengan Travelodge tempat kami menginap. Hehehe…


Wah ternyata Islamic centre ini adalah sebuah gereja yang disulap jadi masjid karena jumlah muslim yang cukup banyak setiap shalat jumat di Aberdeen. Ini menunjukkan perkembangan islam yang pesat apalagi mereka kan cuma pakai gereja seminggu sekali. Subhanallah yah.. 


Figure 3. Ini gerejanya yang disulap jadi masjid

oh iyah saat Aberdeen city tour ini kita ditemani oleh seorang guide yang cukup berpengalaman menjelaskan tentang seluk beluk kota Aberdeen ini. Kami diperlihatkan bangun gereja tertua di Aberdeen, city centre, taman, museum, dan yang paling berkesan saat sang guide menunjukan gereja yang berubah fungsi menjadi bar karena ditinggalkan jamaahnya. Jangan sampai ada masjid yang ditinggalkan jamaahnya deh (sedih banget dengernya…) tapi disisi lain ini memperlihatkan menurunnya jumlah umat Christian disini… (Wallahualam bishawab…)… Setelah puas city tour dan mengambil banyak gambar bangunan Aberdeen yang sangat megah dan indah akhirnya perjalanan kami terhenti di Pantai sebagai final destinantion… Disana kami bermain futsal (bwt bapak-bapak aja sebenernya), anak-anak bermain pasir, dan ibu-ibu sibuk berfoto…;P


 Figure 4. Di depan sebuah Universitas di Aberdeen
 (megah banget yah sayang aku lupa namanya..:P)


 Figure 5. Salah satu kantor pos di Aberdeen (Gede beuttt....^u^)


Figure 6. Berfoto bersama dengan kelompokku di Aberdeen City Tour
Figure 7. Beautiful Beach in Aberdeen

Figure 8. Yeah We're flying without wings....

Figure 9. Aberdeen Museum
Figure 10. Monkey House (kenapa yah dinamain monkey house?)
Figure 11. Gereja tertua di Aberdeen

Setelah itu tepat pukul 13.00 kami kembali ke Feryhill community centre tempat awal khibar gathering diadakan. Disana sudah menanti bazar berbagai macam kuliner khas Indonesia. Wahhh tak sabar rasanya untuk  membeli semua makanan itu. Maklum selama 7 bulan semenjak aku di Inggris kangen sekali rasanya dengan makanan Indonesia. Saat penuh semangat dan rasa lapar mulai terasa ternyata uang yang baru saja kuambil dari ATM hilang. Huahhh sedih sekali rasanya, entahlah dimana hilangnya uang itu…Akhirnya aku berusaha mengikhlaskan dan membatalkan keinginanku untuk membeli dan memborong semua makanan di bazar itu, (hiks sedihnyaaa…T_T ) akhirnya aku meminjam uang temanku sesama student yang juga membawa uang yang sama terbatasnya denganku.  Ingin cerita ke yang lain malu rasanya, aku hanya bercerita ke seorang ummahat (tanpa bermaksud untuk meminta dikasihani low..) dan tiba secara mengejutkan saat acara selesai sang ummahat menganti uang dengan jumlah yang sama dengan uangku yang hilang. Wah senangnya semoga Allah membalas beliau dan keluarga dengan kesehatan dan rizki yang berlipat ganda…(Lain kali lebih hati-hati yah mba Rika..:P)

Singkat cerita sebelum acara ditutup kami bersama-sama menonton kids theatre dan berfoto bersama. Kemudian kami kembali ke Aberdeen Coach station, coach berangkat jam 19.00 dan keesokan harinya pukul 07.00 kami sampai di London. Kemudian kami naik train ke Victoria station untuk kembali ke Chatham kemudian dari Chatham Station naik bus dan sampailah di rent houseku tercinta…..

Tidak terbayangkan betapa menyenangkan dan bermaknanya semua perjalanan, pengalaman yang kudapat selama menuju dan saat acara di Aberdeen. Allhamdulillah di tempat yang ribuan kilometer jaraknya dari Indonesia aku bisa bertemu dengan saudara sesama muslim. Semoga Allah mengizinkan kita bertemu lagi dalam tempat dan keadaan yang lebih baik… insya Allah..
Figure 12. Foto bersama setelah penutupan acara
(ikhwan-akhwat foto terpisah)


Best Regards,


Rika reviza rachmawati



Ibu yang Sekuat Seribu Laki-laki



Bismillahirahmanirrahim,

In the Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.

Cerita luar biasa ini kudapat dari group daffodil muslimah. Sebuah group untuk muslimah yang tinggal atau pernah berdomisili di UK. Saya sangat suka sekali dengan isi ceritanya. Meski aku belum menjadi seorang ibu, tapi sejatinya persiapan itu harus dilakukan semenjak dini untuk menjadi ibu yang begitu hebat yang kekuatannya setara dengan seribu lelaki agar bisa menciptakan generasi-generasi Rabanni yang luar biasa. Insya Allah...^v^

Di sebuah masjid di perkampungan Mesir, suatu sore. Seorang guru mengaji sedang mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Mereka duduk melingkar dan berkelompok. Tiba-tiba, masuk seorang anak kecil yang ingin bergabung di lingkaran mereka. Usianya kira-kira 9 tahun. Sebelum menempatkannya di kelompok, sang guru ingin tahu kemampuannya. Dengan senyumnya yang lembut, ia bertanya pada anak yang baru masuk itu, “Adakah surat yang kamu hapal dalam Al-Qur’an?” “Ya”, jawab anak itu singkat.

“Kalau begitu, coba hafalkan salah satu surat dari Juz ‘Amma?” pinta sang guru. Anak itu lalu menghafalkan beberapa surat, fasih dan benar. Merasa anak tersebut punya kelebihan, guru itu bertanya lagi, “Apakah kamu juga hapal surat Tabaraka (Al-Mulk)?” “Ya”, jawabnya lagi, dan segera membacanya. Baik dan lancar. Guru itu pun terkagum-kagum dengan kemampuan hapalan si anak, meski usianya terlihat lebih belia ketimbang murid-muridnya yang ada.

Dia pun coba bertanya lebih jauh, “Kamu hafal surat An-Nahl?” Ternyata anak itu pun menghapalnya dengan sangat lancar, sehingga kekagumannya semakin bertambah. Lalu dia pun mengujinya dengan surat-surat yang lebih panjang, “Apa kamu hapal surat Al-Baqarah?” anak itu kembali mengiyakan dan langsung membacanya tanpa sedikit pun kesalahan. Semakin pennasaran, dan ia ingin menutup rasa penasaran itu dengan pertanyaan terakhir, “Anakku, apakah kamu hapal Al-Qur’an?” “Ya”, tuturnya polos.

Mendengar jawaban itu, seketika ia mengucap, “Subhanallah wa masyaallah, tabarakkallah.“

Di saat menjelang maghrib sebelum guru tersebut membubarkan anak-anak mengajinya, secara khusus ia berpesan kepada murid barunya, “Besok, kalau kamu datang kembali ke masjid ini, tolong ajak juga orang tuamu. Aku ingin berkenalan dengannya.”

Esok harinya, anak itu kembali datang ke masjid. Kali ini ia bersama ayahnya, seperti pesan si guru ngaji kepadanya. Melihat ayah dari anak tersebut, sang guru bertambah penasaran karena sosoknya yang sama sekali tidak memberi kesan alim, terhormat dan pandai. Belum sempat dia bertanya, ayah si anak sudah menyapa keheranannya terlebih dahulu, “Aku tahu, mungkin Anda tidak percaya bahwa aku ini adalah ayah anak ini. Tapi rasa heran Anda akan aku jawab, bahwa di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki. Aku katakan pada Anda bahwa di rumah, aku masih punya tiga anak lagi yang semuanya hapal Al-Qur’an. Anak perempuanku yang terkecil berusia 4 tahun, dan sekarang sudah hapal juz ‘Amma.”

“Bagaimana ibunya bisa melakukan itu?” tanya si guru tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Ibu mereka, ketika anak-anak itu sudah mulai bisa bicara, ia mulai pula membimbingnya menghapal Al-Qur’an, dan selalu memotivasi mereka melakukan itu. Tak pernah berhenti, dan tak pernah bosan. Dia selalu katakan pada mereka, “Siapa yang hapal lebih dulu, dialah yang menentukan menu makan malam kita malam ini,” “Siapa yang paling cepat mengulangi hapalannya, dialah yang berhak memilih kemana kita berlibur pekan depan,” dan “Siapa yang paling dulu mengkhatamkan hapalannya, dialah yang menentukan kemana kita jalan-jalan pada liburan nanti.” Itulah yang selalu dilakukan ibunya, sehingga terciptalah semangat bersaing dan berlomba di antara mereka untuk memperbanyak dan mengulang-ulang hapalan Al-Qur’an mereka,” jelas si ayah memuji istrinya.

Sebuah keluarga biasa, yang melahirkan anak-anak yang luar biasa, karena energi seorang ibu yang luar biasa.

Setiap kita, dan semua orang tua tentu bercita-cita anak-anaknya menjadi generasi yang shalih, cerdas dan membanggakan. Tetapi, tentu saja hal itu tidaklah mudah. Apalagi membentuk anak-anak itu mencintai dan menghapal Al-Qur’an. Butuh perjuangan. Perlu kekuatan. Mesti tekun dan bersabar melawan rasa letih dan susah, tanpa kenal batas. Maka wajar jika si ayah mengatakan, “Di belakang anak ini ada seorang ibu yang kekuatannya sama dengan seribu laki-laki.”

Ya, perempuan yang telah melahirkan anak itu memang begitu kuat dan perkasa. Sebab membuat permulaan yang baik untuk kehidupan anak-anak, sekali lagi tidak mudah. Hanya orang-orang yang punya kemauan dan motivasi yang bisa melakukannya. Dan tentu saja modal pertamanya adalah keshalihan diri. Tidak ada yang lain.

Sumber : www.hasanalbanna.com

By Sultan Hadi


Best regards,


Rika reviza rachmawati

Thursday, 6 June 2013

Sahabat dan nasihat kehidupan untukku

Bismillahirahmanirahim...

In the Name of Allah The Most Gracious and The Most Merciful.



Kisah ini diambil dari pengalaman seorang temanku yang sangat luar biasa. Beliau adalah seorang ummahat shalehah yang memiliki 3 orang anak yang sangat luar biasa. Anak-anak yang masih sangat muda tapi sangat dewasa dan cerdas. Namanya ummi aku hanya sempat bertemu sekali dengan beliau saat ada acara pengajian bulanan di rumahnya. Saat itu pertemuan pertamaku terjadi sekitar bulan Desember 2012 bulan keduaku di Inggris. Aku baru datang ke Inggris sekitar bulan November 2012. Aku belum terlalu mengenal beliau tapi malam itu setelah pengajian aku memutuskan menginap di rumah ummi karena sudah terlalu malam untuk kembali ke rent houseku.

Ummi dan keluarganya sangat baik kepadaku. Keluarga muslim yang sangat menyenangkan. Suaminya bukan berasal dari Indonesia tapi insya Allah shaleh dan sangat baik. Pagi itu saat autumn udara sangat dingin kami sarapan pagi bersama. Ummi bercerita sedikit tentang penyakit  yang dideritanya  beliau menderita penyakit tumor ganas di payudaranya. Rasa sakit ini diawali ketika ummi mengandung anaknya yang ketiga.  Demi menjaga janin dalam kandungannya, ummi memutuskan menunda semua terapi agar si jabang bayi tak terkena berbagai efek buruk terapi kanker. Padahal menurut dokter kehamilan  meningkatkan hormon estrogen yang memacu pertumbuhan kanker payudara semakin ganas. Satu hal yang sangat luar biasa yang kupelajari dari ummi saat itu betap besar dan berat pengorbanan ummi untuk anaknya...Subhanallah..

Ummi akhirnya menjalani kemoterapi hormonal yang sudah dikonsumsi selama 6 tahun terakhir. Akhirnya setelah sekian lama, kemoterapi  ini akan segera dihentikan, dan ahli onkologi akan men "discharge" ummi karena sudah "disease-free" selama 6 tahun. Di Inggris ini, semua pasien mendapat follow up ketat pasca terapi, dan dia taat akan semua regimen terapi yang diberikan oleh para dokter. Terapi kanker di Inggris adalah salah satu yang paling maju di dunia, Cancer Research UK sangat terkenal dalam penelitian dan penemuan terapi-terapi baru untuk kanker.


Ternyata, ilmu manusia itu tak ada setitik pun dibandingkan ilmu sang Pencipta yang bahkan lebih luas dari samudera. Para dokter menemukan pertumbuhan sel-sel kanker itu lagi di hatinya. Serial kemoterapi pun dimulai lagi dengan segala efek samping tak mengenakkannya. Namun demikian, sel-sel kanker itu tetap tinggal, bahkan semakin meluaskan penjelajahannya ke tulang-tulang dada dan iganya. Radioterapi pun dijalaninya. Hingga sudah semua modalitas terapi dilakoninya, tampaknya Sang Penguasa Alam Raya ingin mengajarkan padaku bahwa kuasa dan keputusan Nya adalah hukum dan hasil yang pasti berlaku. Dunia kedokteran yang dengan bangga menyatakan "disease-free" itu rupanya hanya arogansi manusia belaka.

Menjenguknya beberapa hari lalu di rumah sakit, dengan senyum mengembang dan mata kuning (karena jaundice) ummi menceritakan hasil CT scan yang baru diberitakan oleh para dokternya. 
"Alhamdulillaah, kata dokter, kanker sudah menyebar kemana-mana", begitu katanya... "Alhamdulillaah, nyeri hebat di seluruh badan sampai kalo tak tahan lagi, terpaksa morfin ini diminum... Alhamdulillaah masih berasa nyeri, kalo ga berasa, tentu sedang koma...", begitu katanya ringan sambil tersenyum. "Alhamdulillaah...", begitu katanya berulang-ulang. "Alhamdulillaah, mudah-mudahan ikhlas... Allah yang akan mengurus anak-anak nanti insha Allah...", ujarnya tetap tersenyum.

"Dokter sudah bilang, 'we are sorry that there is nothing we can do, you can go home if you'd like to'," sambungnya. "Saya ingin pulang saja supaya bisa bersama anak-anak. Mohon dimaafkan segala kesalahan yaa...", begitu katanya, masih dengan nada ringan.


Saat itu aku bersama ummahat yang lain menjenguk ummi di rumah sakit, kulihat wajahnya begitu tegar dan telihat tabah. Jujur saja di usiaku saat ini aku belum pernah bertemu dengan pasien kanker dan aku merasa kagum luar biasa dari ummi apalagi beliau bercerita masih bisa shalat 5 waktu dengan posisi "normal" seperti biasa. Beliau melanjutkan semenjak keadaan tubuhnya yang semakin drop suaminyalah yang mengambil alih peran rumah tangga. Mulai dari bangun jam 2 malam kemudian bekerja sampai sekitar pukul 8 pagi. Kemudian menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, mengantarkan sekolah anak-anak. Sekembalinya dari mengantarkan sekolah, abi (panggilan untuk suaminya ummi) menyiapkan segala keperluan ummi, memandikan, menyuapi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, sampai kemudian menjemput anaknya kembali. Sambil tersenyum ummi berkata Abi itu orangnya apik kalau kerja pasti bersih dan rapi. Tidak terbayang betapa berat peran yang harus Abi jalani mengurus 3 orang anak, ummi yang sedang menderita penyakit berat dan tetap bekerja agar bisa memutar roda ekonomi keluarga. 

Saat itu aku  sedang menemani ummi menunggu Abi menjemput di lobi rumah sakit. Dari kejauhan terlihat mobil Abi sudah datang kemudian ummi segera mengakhiri ceritanya dengan mengatakan semoga Allah memberikan kekuatan untuk Abi dan anak-anak ummi, tetap menjadi shaleh dan shalehah dan tidak terpengaruh budaya barat. Cerita ini diceritakan ummi saat aku dan ummi akan pulang dari rumah sakit setelah dokter memutuskan ummi boleh pulang karena dokter sudah menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Udara cukup dingin saat itu angin bertiup sangat kencang dan diiringi hujan yang cukup deras. Abi mendorong kursi roda ummi ke mobil dan membantu menaikkan ummi ke mobil. Aku berusaha membantu membawa barang-barang ummi dari rumah sakit. Sebelum menjalankan mobil Abi menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk ketiga anak-anaknya kemudian mobil berjalan.

Baru sepuluh menit perjalanan, ummi teringat "painkiller" untuk meringankan rasa sakit ummi belum diambil, mobil diputar balik kembali ke arah rumah sakit. Hujan mengucur sangat deras membuatku agak sedikit gelisah sebenarnya tapi anak-anak ummi tetap ceria dan berusaha mengajakku bercanda. Aku tahu ummi dan Abi juga terlihat sangat gelisah karena obat itu sangat penting untuk ummi. Sampai rumah sakit dengan menerobos hujan deras Abi turun dari mobil demi mengambil "painkiller" untuk ummi. Dalam hati aku mengagumi Abi.. Subhanallah betapa berat dan besar perjuangan Abi untuk ummi, Semoga Allah memberinya kekuatan...Singkat cerita hari itu adalah hari terakhirku bertemu ummi karena rupanya Allah punya rencana yang lebih indah untuk ummi..

Tanggal 11 May aku menerima berita mengejutkan  yang mengabarkan ummi meninggal. Entah kenapa rasanya sangat kehilangan sekali walaupun aku baru bertemu beliau dua kali. Tapi di sisi lain ada hikmah yag bisa diambil ummi tidak lagi merasakan sakit  yang dideritanya. Semoga Allah menggugurkan dosa-dosa beliau, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya bidadari surga dan memberikan kesabaran, kekuatan untuk Abi dan anak-anaknya. Aamiin..

Kutipan dari seorang sahabat untuk ummi:

"Sahabatku, sungguh malu diriku berdiri di hadapanmu...
Betapa pelajaran yang kau berikan untukku sudah mencabik-cabik ketinggian hatiku atas majunya dunia kedpkteran manusia. Kisahmu mengajarkan, ilmu manusia jauh lebih sedikit dari sekedar terbatas...

Sahabatku, sungguh aku takjub padamu...
Hanya orang-orang terpilih seperti dirimu yang mendapat ujian begitu besar dari Sang Pencipta, ikhlas menerimanya, bahkan memanfaatkannya sebagai penggugur dosa...

Sahabatku, sungguh aku iri terhadapmu...
Sekarang kau menyibukkan diri untuk kehidupan akhiratmu, seakan detik berikutnya nyawamu sudah berpisah dari raga... Aku yang selalu merasa sehat, merasa malaikat maut pasti akan enggan mencabut nyawaku dalam waktu dekat, sibuk dengan segala urusan duniaku. Padahal bisa jadi takdir Pencipta tertulis sebaliknya...

Sahabatku, sungguh aku kagum padamu, suamimu, dan anak-anakmu...
Allah perlihatkan bagaimana hasil pendidikan ilahiyah Nya terhadap anak-anakmu, yang begitu dewasa merawat ibunya, di usia mereka yang masih dalam hitungan jari...

Terima kasih... terima kasih atas semua pelajaran yang kau berikan padaku selama ini... Tak mungkin bisa kubalas segala kebaikanmu... Hanya seuntai doa, yang mudah-mudahan Allah dengar, dariku yang kualitas penghambaannya hanya seujung kuku dirimu..."



Ummi semoga Allah memberikanmu tempat terindah disisiNya...Aamiin..


*Disadur dari catatan seorang sahabat dengan sedikit perubahan...


Best regards,


Rika reviza rachmawati