In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. All praise be to Allah the Lord of Allah the worlds. Peace and Blessings be upon His final Messenger Muhammad. May Allah forgive me for any error in this humble work, as perfection is Divine, and may He reward me in the Hereafter.
Kisah ini kudapat ketika mengikuti acara dauroh tarqiyah di London, 26 January 2013 lalu. Sebuah kisah tentang sumuliyatul islam yang diajarkan oleh para sahabat nabi kepada kita semua umat islam di akhir zaman. Kisah luar biasa yang membuatku berfikir sudahkah aku melakukan hal yang sama terhadap saudaraku sesama muslim disana?
Kisah ini terjadi pada zaman Umar bin Khatab ketika beliau menjadi seorang khalifah. Ketika itu ada seorang pemuda shaleh yang sedang dalam perjalanan jauh datang ke kota Madinah dengan menggunakan untanya. Pemuda shaleh ini kemudian menambatkan untanya di pohon karena beliau ingin shalat di masjid terdekat.
Setelah shalat betapa terkejutnya pemuda ini ternyata unta yang dia gunakan untuk perjalanan telah mati dibunuh oleh oleh seorang lelaki tua. Tiba-tiba pemuda ini melakukan kekhilafan, saking marahnya akhirnya pemuda ini membunuh lelaki tua ini. Setelah kejadian itu terjadi keluarga sang lelaki tua amat sangat marah dan menuntut kepada sang khalifah Umar bin Khatab radiyallahanhu agar sang pemuda ini dihukum qisas. Sesuai dengan hukum islam yaitu darah harus dibayar dengan darah. Artinya pemuda ini harus dihukum mati.
Pemuda ini siap untuk menjalani hukumannya sebagai bentuk penyesalan akan kesalahannya dan bentuk tanggungjawabnya, tapi sebelum menjalani hukuman mati pemuda ini memohon kepada sang khalifah Umar agar menunda hukumannya satu hari saja, karena dia harus terlebih dahulu kembali ke kampung halamannya karena ada hal penting yang harus diselesaikan sebelum beliau meninggal. Khalifah Umar dengan bijaksana berkata akan mengijinkan pemuda ini untuk kembali dulu ke kampung halamannya tapi dengan syarat harus ada orang yang bersedia menjadi penjamin pemuda ini kalau ternyata pemuda ini tidak kembali esok hari maka sang penjamin yang akan menggantikan pemuda ini untuk menjaani hukuman mati.
Seorang sahabat yang shaleh yaitu Salman Al Farisi menjawab, saya bersedia menjadi penjamin pemuda ini, selama beliau kembali ke kampung halamannya. Semua orang terheran-heran mengapa Salman rela menjadi penjamin untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya? namun Salman tetap pada pendiriannya. Beliau bersedia menjadi penjamin pemuda ini. Akhirnya pemuda ini diijinkan oleh khalifah Umar bin Khatab untuk pulang ke kampung halamannya terlebih dahulu dengan syarat besok pada pukul 12 siang harus sudah kembaili ke Madinah, jika tidak Salman yang akan menjalani hukuman mati, dan pemuda itu menyanggupi persyaratan dari sang khalifah.
Esoknya tepat pukul 12 siang, sesuai dengan waktu yang dijanjikan oleh Khalifah Umar kepada sang pemuda hukuman mati Qisas akan berlangsung. Sahabat Salman dengan tenang siap menunggu sang pemuda. Lewat beberapa jam dari jam 12 siang ternyata sang pemuda tak kunjung tiba, para penduduk Madinah mulai panik, mereka takut Salman yang akan dihukum Qisas. Besarnya kecintaan mereka terhadap Salman membuat beberapa sahabat mengajukan diri untuk menggantikan Salman namun Salman dengan tenang mengatakan apapun yang terjadi saya sudah siap menghadapi konsekuensinya. Karena waktu yang dijanjikan sudah lewat akhirnya Khalifah Umar memutuskan untuk memulai eksekusi.
Tiba-tiba dari kejauhan tampaklah seorang pemuda yang berlari dan nampak kelelahan, ya dialah pemuda yang harusnya menjalani hukuman Qisas itu. Pemuda ini langsung menghadap sang khalifah Umar dan memohon maaf atas keterlambatannya, karena dalam perjalanan tadi pemuda ini menghadapi masalah dengan untanya. Hingga akhirnya beliau harus telat untuk sampai ke Madinah. Mungin kalau di zaman modern motornya mogok. hehe...
Akhirnya sebelum hukuman Qisas dilaksanakan, Khalifah Umar yang terkesan dengan kedatangan pemuda ini bertanya "mengapa kamu datang kembali padahal kamu tahu jika kamu datang kesini kamu akan menghadapi hukuman mati"? pemuda ini menjawab " saya seorang muslim, wajib bagi seorang muslim untuk menepati janji. Saya tidak ingin orang akan mengenal islam sebagai agama yang suka mengingkari janji. Karena barang siapa yang mengingkari janji dia adalah seorang munafik.
Kemudian Khalifah Umar bertanya kepada Sahabat Salman, mengapa kamu rela untuk menjadi penjamin pemuda ini padahal kamu belum pernah bertemu dengan pemuda ini sebelumnya, padahal bisa jadi pemuda ini tidak akan datang dan kamu akan kehilangann nyawamu? Sahabat Salman menjawab, walaupun saya belum pernah berjumpa dengan pemuda ini sebelumnya, tapi saya yakin pemuda ini adalah pemuda shaleh yang akan menepati janjinya, saya tidak perduli jika saya harus mengorbankan nyawa saya untuk orang lain, saya hanya ingin orang akan mengenal islamsebagai agama yang umatnya saling perduli dengan urusan saudaranya.
Tiba-tiba keluarga lelaki tua ini berkata, baiklah khalifah Umar saya maafkan pemuda ini, saya batalkan hukuman qisas ini. Akhirnya pemuda ini tidak jadi menjalani hukuman mati. Khalifah Umar bertanya mengapa kamu membatalkan hukuman Qisas ini? keluarga lelaki tua ini menjawab, kami tidak ingin orang mengenal islam sebagai agama yang tidak bisa memaafkan kesalahan saudaranya, kami ingin orang mengenal islam sebagai agama yang umatnya pemaaf terhadap saudaranya sesama muslim.
Subhanallah sebuah kisah yang luar biasa yang bisa dijadikan hikmah untuk kita semua. Betapa mulianya akhlak seorang muslim. Pribadi yang berkilau dan mempesona, karena kita semua adalah model untuk keindahan islam itu sendiri. Ketika saat ini sesama muslim saling menjatuhkan satu sama lain, menuding, seakan-akan lupa kalau sejatinya muslim itu satu tubuh kita bersaudara satu sama lain. Berkaca terhadap sifat para sahabat, mari kita tunjukkan pada dunia betapa mulianya akhlak seorang muslim.
Bet regards,
rika reviz rachmawati
No comments:
Post a Comment