In The Name
Of Allah, The Most Beneficent, The Most Merciful
Ketika sore itu aku bersama teman-temanku membaca surah Maryam, kemudian kami membahas mengenai makna
luar biasa dibalik perjuangan Siti Maryam, terfikir
olehku betapa luar biasa dan tangguhnya
perjuangan beliau sebagai seorang wanita yang harusnya bisa kuambil hikmah dari beliau. Ini adalah
terjemahan Surat Maryam 22-24:
22. So she
conceived him, and she withdrew with him to a far place (i.e. Bethlehem valley
about 4-6 miles from Jerusalem).
“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia
menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.
23. And the pains
of childbirth drove her to the trunk of a date-palm. She said: "Would that
I had died before this, and had been forgotten and out of sight!"
Maka rasa sakit akan melahirkan
anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai,
alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak
berarti, lagi dilupakan.”
24. Then [the
babe 'Iesa (Jesus) or Jibrael (Gabriel)] cried unto her from below her, saying:
"Grieve not! Your Lord has provided a water stream under you;
Maka Jibril menyerunya dari tempat yang
rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan
anak sungai di bawahmu.
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke
arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak
kepadamu.”(QS.Maryam: 22-25)
Subhanallah betapa beratnya perjuangan seorang ibu dan
pada saat itu Siti Maryam sedang berada di padang pasir sendirian, dan merasa ingin mati saja karena tidak sanggup menahan rasa sakit karena
melahirkan. Terbayang olehku walaupun aku
belum pernah merasakan sakitnya melahirkan tapi menurut
penelitian yang pernah kubaca sakitnya melahirkan itu seperti 20 tulang rangka
kita yang dipatahkan sekaligus.
Allah yang Maha baik mengutus malaikat Jibril untuk
memberitahu kepada Siti Maryam, jangan bersedih dan menyuruh Siti Maryam untuk
menggoyangkan pangkal pohon kurma agar (pohon) itu menggugurkan buah kurma yang
masak. Terbayang olehku tinggi pohon kurma itu sekitar 15-25 m. Menurut sebuah
penelitian dibutuhkan 4 orang lelaki kuat untuk menggoyang batang pohon kurma,
sedangkan waktu itu Siti Maryam hanya seorang wanita lemah yang baru saja
melahirkan dan sedang kelaparan. Sempat terfikir kenapa Allah tidak menurunkan
saja makanan lewat malaikat Jibril untuk memudahkan Siti Maryam? Tapi tidak Allah menyuruh
Siti Maryam untuk mengogoyangkan pangkal pohon kurma terlebih dahulu baru
kemudian bisa mendapatkan buah kurma yang masak.
Ada pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil disini sebagai manusia sudah
seharusnya kita berikhtiar semaksimal mungkin sebelum mendapatkan hasil apapun
itu.
Teringat pada seorang sahabatku beliau bekerja di sebuah
peternakan, di tempatnya bekerja beliau merasa bukan menjadi dirinya sendiri
karena sering
dipaksa untuk melaukan mark up
data, pengeluaran yang tidak ada dibuat seolah-olah ada, penuh kebohongan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Sempat terjadi perang batin karena di satu sisi
pekerjaan ini sangat ia butuhkan di sisi lain beliau menyadari Allah tidak menyukai hambanya yang mencari uang dengan
cara yang haram. Akhirnya Allhamdulillah setelah istikharah beliau memutuskan
keluar karena rizki Allah itu luas dan tidak akan berkah hidup seseorang jika
dia mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal.
Mari belajar dari burung-burung cantik yang kulihat di
stasiun London Bridge beberapa hari yang lalu, mereka pergi pada
pagi hari dalam keadaan lapar, namun setelah berusaha dan terbang seharian
untuk mencari makan burung itu kembali kerumahnya dalam keadaan kenyang. Waktu
itu aku mencoba berbagi biskuit makan siangku dengan burung-burung itu, awalnya terlihat malu -malu
tapi beberapa saat kemudian burung itu berjuang bersama yang lain makan biskuit
yang sudah kubuat menjadi remah-remah itu dengan semangat. Meskipun beberapa kali
mereka harus menghindar dari manusia yang berlalu lalang, karena kalau tidak
burung-burung itu bisa terinjak oleh manusia, namun itu sama sekali tidak meruntuhkan semangat mereka untuk mendapatkan makanan. Sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa untuk burung, harusnya sebagai manusia kita bisa lebih baik dari
burung-burung ini, berusahalah
semaksimal mungkin untuk mencapai yang kita inginkan.
Hal lain yang menarik yang bisa kita ambil hikmahnya
adalah ketika Siti Hajar berlari dari bukit Safa ke bukit Marwa, dan sebaliknya
sebanyak 7 kali demi mencari air untuk Nabi Ismail AS. Dulu
waktu aku umrah harus melakukan sa'i hal yang sama seperti Siti
Hajar. Cukup melelahkan padahal aku melakukannya dalam
ruangan yang dilengkapi dengan pendingin dan mencoba membandingkan dengan Siti Hajar yang melakukannya di padang pasir dalam kondisi lelah dan
yang pasti kepanasan. Berlari-lari
untuk mencari air walaupun sudah pasti tidak ada air, dan akhirnya Allah
menunjukkan kuasanya air itu keluar dari kaki Nabi Ismail. Bukan keluar di
bukit Safa atau Marwah. Kembali kita belajar dan mengambil
hikmah bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya
sendiri selama hambaNya itu selalu yakin dengan pertolongannya. Terkadang
pertolongan Allah itu justru datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka.
Teruslah berikhtiar maksimal hasilnya biarlah Allah yang akan
membalasnya, percayalah pertolongan Allah sangat dekat.
Semoga kita belajar banyak dari perjuangan luar biasa wanita shalehah ini, Keep fight Allah always with us...
Life is like a coin, pleasure and pain are the two sides. Only one side is visible at time, but remember other side also waiting for its turn.
Best Regards,
Rika reviza
rachmawati

No comments:
Post a Comment