Tuesday, 15 January 2013

Learn from Siti Maryam and Siti hajar


In The Name Of Allah, The Most Beneficent, The Most Merciful

Ketika sore itu aku bersama teman-temanku membaca surah  Maryam, kemudian kami membahas mengenai makna luar biasa dibalik perjuangan Siti Maryam, terfikir olehku betapa luar biasa dan tangguhnya perjuangan beliau sebagai seorang wanita yang harusnya bisa kuambil hikmah dari beliau. Ini adalah terjemahan Surat Maryam 22-24:

22. So she conceived him, and she withdrew with him to a far place (i.e. Bethlehem valley about 4-6 miles from Jerusalem).

“Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.

23. And the pains of childbirth drove her to the trunk of a date-palm. She said: "Would that I had died before this, and had been forgotten and out of sight!"

 Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” 

24. Then [the babe 'Iesa (Jesus) or Jibrael (Gabriel)] cried unto her from below her, saying: "Grieve not! Your Lord has provided a water stream under you;

Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. 

25. "And shake the trunk of date-palm towards you, it will let fall fresh ripe-dates upon you."

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”(QS.Maryam: 22-25)


Subhanallah betapa beratnya perjuangan seorang ibu dan pada saat itu Siti Maryam sedang berada di padang pasir sendirian, dan merasa ingin mati saja karena tidak sanggup menahan rasa sakit karena melahirkan. Terbayang olehku walaupun aku belum pernah merasakan sakitnya melahirkan tapi menurut penelitian yang pernah kubaca sakitnya melahirkan itu seperti 20 tulang rangka kita yang dipatahkan sekaligus. 

Allah yang Maha baik mengutus malaikat Jibril untuk memberitahu kepada Siti Maryam, jangan bersedih dan menyuruh Siti Maryam untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar (pohon) itu menggugurkan buah kurma yang masak. Terbayang olehku tinggi pohon kurma itu sekitar 15-25 m. Menurut sebuah penelitian dibutuhkan 4 orang lelaki kuat untuk menggoyang batang pohon kurma, sedangkan waktu itu Siti Maryam hanya seorang wanita lemah yang baru saja melahirkan dan sedang kelaparan. Sempat terfikir kenapa Allah tidak menurunkan saja makanan lewat malaikat Jibril untuk memudahkan Siti Maryam? Tapi tidak Allah menyuruh Siti Maryam untuk mengogoyangkan pangkal pohon kurma terlebih dahulu baru kemudian bisa mendapatkan buah kurma yang masak. Ada pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil disini sebagai manusia sudah seharusnya kita berikhtiar semaksimal mungkin sebelum mendapatkan hasil apapun itu. 

Teringat pada seorang sahabatku beliau bekerja di sebuah peternakan, di tempatnya bekerja beliau merasa bukan menjadi dirinya sendiri karena sering dipaksa untuk melaukan  mark up data, pengeluaran yang tidak ada dibuat seolah-olah ada, penuh kebohongan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sempat terjadi perang batin karena di satu sisi pekerjaan ini sangat ia butuhkan di sisi lain beliau menyadari Allah tidak menyukai hambanya yang mencari uang dengan cara yang haram. Akhirnya Allhamdulillah setelah istikharah beliau memutuskan keluar karena rizki Allah itu luas dan tidak akan berkah hidup seseorang jika dia mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal. 

Mari belajar dari burung-burung cantik yang kulihat di stasiun London Bridge beberapa hari yang lalu,  mereka  pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, namun setelah berusaha dan terbang seharian untuk mencari makan burung itu kembali kerumahnya dalam keadaan kenyang. Waktu itu aku mencoba berbagi biskuit makan siangku dengan burung-burung itu, awalnya terlihat malu -malu tapi beberapa saat kemudian burung itu berjuang bersama yang lain makan biskuit yang sudah  kubuat menjadi remah-remah itu dengan semangat. Meskipun beberapa kali mereka harus menghindar dari manusia yang berlalu lalang, karena kalau tidak burung-burung itu bisa terinjak oleh manusia, namun itu sama sekali tidak meruntuhkan semangat mereka untuk mendapatkan makanan. Sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa untuk burung, harusnya sebagai manusia kita bisa lebih baik dari burung-burung ini, berusahalah semaksimal mungkin untuk mencapai yang kita inginkan.

Hal lain yang menarik yang bisa kita ambil hikmahnya adalah ketika Siti Hajar berlari dari bukit Safa ke bukit Marwa, dan sebaliknya sebanyak 7 kali demi mencari air untuk Nabi Ismail AS. Dulu waktu aku umrah harus melakukan sa'i hal yang sama seperti Siti Hajar. Cukup melelahkan padahal aku melakukannya dalam ruangan yang dilengkapi dengan pendingin dan mencoba membandingkan dengan Siti Hajar yang melakukannya di padang pasir dalam kondisi lelah dan yang pasti kepanasan. Berlari-lari untuk mencari air walaupun sudah pasti tidak ada air, dan akhirnya Allah menunjukkan kuasanya air itu keluar dari kaki Nabi Ismail. Bukan keluar di bukit Safa atau Marwah. Kembali kita belajar dan mengambil hikmah bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya sendiri selama hambaNya itu selalu yakin dengan pertolongannya. Terkadang pertolongan Allah itu justru datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Teruslah berikhtiar maksimal hasilnya biarlah Allah yang akan membalasnya, percayalah pertolongan Allah sangat dekat. 

Semoga kita belajar banyak dari perjuangan luar biasa wanita shalehah ini, Keep fight Allah always with us...
Life is like a coin, pleasure and pain are the two sides. Only one side is visible at time, but remember other side also waiting for its turn.



Best Regards,



Rika reviza rachmawati



No comments: