Sunday, 27 October 2013

Suka duka “International Students”

Menjadi International students di Negara eropa terutama di UK ini adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Banyak sekali yang bisa dipelajari meski hanya mendengar cerita dari sesama temanku yang berasal dari negara lain. Pepatah bilang experience is the best teacher, tapi terkadang belajar dari pengalaman lain tanpa harus mengalaminya sendiri hingga membuatku sangat bersyukur dengan hidupku sekarang. Memang sepertinya terlihat menyenangkan bisa belajar di Negara lain tapi dibalik semua itu terkadang permasalahan akademik,masalah keluarga bahkan mungkin perbedaan bahasa bisa menjadi hal yang sangat berat untuk International students.

Cerita pertama dari temanku seorang PhD student dari Tanzania, sebuah Negara di Africa, yang belum pernah terbayang seperti apa negaranya. Namanya Wahira, seorang akhwat berkulit hitam manis. Pertama kali aku bertemu beliau saat aku shalat di prayer room (sebuah ruangan kecil berbentuk seperti kelas yang disediakan universitas untuk kami umat muslim melaksanakan shalat). Wahira ini berusia sekitar 30 tahunan dan sudah memiliki dua orang anak berumur 6 tahun dan 3 tahun (masih kecil sekali yah anaknya) sayangnya karena harus menyelesaikan PhDnya beliau meninggalkan anaknya di Tanzania. Beliau bercerita tentang research untuk disertasinya. Awal proposal researchnya tentang insect yang menyerang hutan mangrove di Tanzania. Karena proposalnya yang menarik akhirnya beliau mendapatkan rekomendasi untuk memulai PhDnya di Universitas yang sama denganku mengambil master saat ini. Namun keadaan berkata lain ternyata saat Wahira akan memulai penelitiannya, populasi insect di hutan mangrove sudah tidak ada lagi dan terpaksa wahira harus mengganti research proposal beliau dan kembali memulai semuanya dari awal. Tak jarang saat bimbingan dengan supervisornya setelah beliau meyerahkan 20 lembar (sekitar 6.000-7000 words), kemudian sang supervisor hanya berkata “ this is rubbish” wow,,, terbayang bukan pekerjaan sebanyak itu hanya dihargai “rubbish”. Expectation mereka memang sangat tinggi apalagi untuk ukuran PhD. Quite challenging, isn’t it?

Wahira juga cerita beratnya menghadapi PhD Viva, ini seperti sidang untuk PhD “oral examination” dengan dua orang external examiners tujuannya adalah untuk menguji content disertasi yang dibuat oleh PhD student apakah memenuhi standard atau tidak. Ujiannya tanpa limit waktu bisa jadi seharian, dengan penguji yang bisa jadi berasal dari UK atau dari luar UK. Sehingga hasilnya akan sangat objective karena penguji dan student tidak punya hubungan apa-apa. Hasilnya bisa bervariasi bisa failed dan kita pulang hanya dengan gelar M.phil (Master of Philosophy) karena dianggap disertasi kita belum layak, passed dengan minor correction (ini yang cukup baik) atau passed dengan major correction (bisa jadi kita menambah satu chapter lagi atau kembali mengambil data lagi di lapangan atau di laboratorium lagi). Masalahnya adalah kalau kita international student dan research di Negara asal student kembali ke “field” untuk mengambil data pastilah sangat “expensive” seperti itulah sedikit gambaran beratnya PhD student…

Lain lagi kisah tentang seorang PhD student dari Syiria. Beliau juga seorang muslim, cukup cerdas karena beberapa kali berhasil menerbitkan journal international. Namun sepertinya Allah SWT sedang ingin menguji beliau. Beliau dinyatakan failed di PhD Viva dan diharuskan mengulang kembali penelitiannya dari awal. Normalnya PhD student itu hanya tiga tahun (itupun hanya yang brilliant yang bisa pas tiga tahun). Dan sekarang sang PhD student tersebut sedang berada di tahun keenam. hmmm kebayang kan beratnya..memang terkadang menyelesaikan PhD bisa tanpa limit waktu…Kisah dramatis beliau semakin membuatku sedih karena seperti yang diberitakan media saat ini Syiria sedang berada dalam keadaan krisis parah setelah serangan senjata kimia pemerintahan Bashar Ashad yang telah berhasil mengurangi jumlah penduduknya dari 70,000 jiwa menjadi 12,000 jiwa.Tidak pernah terbayang olehku betapa parah keadaan di sana. Dan beliau saat ini benar-benar lost contact dengan semua keluarganya di Syiria. Pernah saat beliau kembali ke Syiria untuk mencari  keluarganya ternyata rumahnya sudah rata dengan tanah dan hilanglah kesempatan untuk bertemu bahkan mencoba menghubungi keluarganya……

Hidup di UK ini bisa terbilang cukup mahal karena perbedaan kurs poundsterling yang cukup tinggi walaupun dibandingkan dengan dollar dan Euro. Terbayang olehku sekolah tanpa beasiswa karena beasiswa beliau sudah dicabut karena PhDnya lebih dari tiga tahun, sulitnya “research” dan lost contact dengan keluarga, entah mereka masih hidup atau sudah meninggal,, May Allah make it easier your task....
Lain lagi dengan kisah temanku dari Vietnam, sesama master student sepertiku. Sebut saja vita, beliau mendapatkan banyak masalah dengan kuliah dan lecture ku karena “language barrier” atau masalah bahasa. Vietnam language dan English memang totally difference sehingga membuat mereka sangat kesulitan untuk berbicara dengan lancar dan itu sangat menyulitkan mereka. Kebanyakan British memang mengerti masalah keterbatasan bahasa ini tapi tetap saja karena bahasa adalah kunci untuk berkomunikasi hal ini menjadi amat sangat penting. Vita memiliki seorang anak dan suami di Vietnam beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah namun karena permasalahan akademik beasiswanya terhenti, terpaksa vita harus bekerja di restoran 3 hari seminggu, mulai pukul 6pm-2am. Terbayang betapa beratnya karena sebagai seorang master student yang hanya setahun, kami benar-benar harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena dalam satu tahun kami harus menyelasaikan thesis, research, kuliah, essays writing task dan exam sekaligus. Sangat melelahkan dan tanpa jeda, apalagi lecture disini sangat menuntut kita untuk berfikir kritis. Unlimited access untuk journal, reliable library membuat seakan-akan no excuse kalau kita membaca hanya 30 journal untuk essay 2000 words. Seperti itulah sedikit gambaran kuliah di UK….


Masih banyak kisah international students yang lain, yang tidak kalah dramatis dengan masalah yang berbeda-beda pula tentunya. Yang terpenting aku selalu berdoa semoga Allah SWT memberikan kami kemudahan dalam menyelesaikan study kami, karena sejatinya kami juga sedang berjihad dalam bentuk belajar…Semoga apa-apa yang kami pelajari bisa bermanfaat untuk umat banyak nantinya…
Students Trip  to Cambridge for International Students

2 comments:

Hanipa Asmita H.K. said...

subhanallah.. serrruu teh baca kisah2 teteh disini :D :)

Unknown said...

Salam kenal Hanipa...maaf baru bls jarang buka blog siy;)